Wanita Jomblo Lebih Bahagia Dibanding Pria, Ini Alasannya

Jomblo happy ibarat mitos. Jika ada teman yang mengaku bahagia meski single, kita cenderung menganggapnya sebagai pembelaan diri saja. Padahal, survei terbaru dari lembaga terpercaya menunjukkan wanita lajang memang lebih bahagia, lho! Mau tahu alasannya mengapa bisa bahagia meski jomblo? Simak, yuk!

jomblo happy

TERLALU lama melajang sering dikaitkan dengan kesepian dan rasa skeptis akan cinta. Banyak yang menduga wanita atau pria tanpa pasangan sebagai orang yang memang tak cukup menarik bagi lawan jenisnya. Padahal, bisa saja mereka bukan tak laku, tapi memang bahagia meski jomblo.

Laporan terbaru dari Mintel’s Single Lifestyle UK melaporkan bahwa kebanyakan orang lajang adalah jomblo happy yang tak memikirkan status mereka. Pun, tahukah Anda? Ternyata dalam status jomblonya, wanita lebih bahagia daripada pria.

Salah satu analis Mintel, seperti yang dikutip dari bustle.com, mengatakan bahwa ini dapat terjadi karena wanita telah banyak belajar skill baru. Selama 20 tahun ke belakang, wanita mempelajari banyak hal yang biasa diasosiasikan dengan pria, seperti menggunakan perkakas rumah atau membenarkan peralatan-peralatan rumah tangga. Keahlian ini pun membuat wanita lebih independen.

Alasan lainnya mengapa wanita bisa lebih bahagia meski jomblo adalah keahlian gender satu ini dalam membentuk support group. Keahlian bawaan dari nenek moyang dalam membentuk jaringan support membuat wanita dapat membicarakan pemikiran dan perasaannya pada teman-teman senasib. Keahlian ini kurang dimiliki pria karena pria tak biasa membuka diri kepada teman terdekatnya sekalipun.

Selain hal-hal tadi, ada pula alasan lainnya berikut ini mengapa wanita ahli dalam menjadi jomblo happy.

Memang Menikmati Kesendiriannya

Jomblo sering dikaitkan dengan ketidakmampuan mencari pasangan. Nyatanya, 61 persen wanita yang disurvei oleh Mintel mengatakan bahwa mereka adalah jomblo happy yang bahagia dengan statusnya. Bagi mereka, jomblo adalah sebuah pilihan, bukan karena tak punya pilihan.

Baca juga: 9 Hal yang Perlu Anda Lakukan saat Masih Betah Menjomblo

Tidak Ingin Membuat Hidup Lebih Kompleks

Sebanyak 65 persen pria dan 75 persen wanita lajang yang disurvei Mintel mengatakan bahwa mereka tak ingin mengubah status kejombloannya. Mereka tetap ingin demikian dan tak ingin mencari orang baru untuk dijadikan pendamping. Menurut mereka, mencari pasangan hanya akan membuat hidup jadi lebih kompleks.

Semakin Percaya Diri Seiring Bertambahnya Usia

Saat menginjak usia remaja dan dewasa muda, sekitar usia 18-24 tahun, Anda mungkin akan terjebak dengan tekanan sosial. Pada usia-usia ini, Anda mungkin akan melihat banyak teman maupun keluarga yang berusia sebaya mulai merajut komitmennya, bahkan menikah. Jika ini yang terjadi di lingkungan sekitar, Anda mungkin akan terjebak melakukan hal yang sama.

Mencari pasangan seolah adalah kewajiban dan menjadi single adalah sebuah aib yang harusnya disembunyikan. Namun, seiring bertambahnya usia, Anda akan menyadari bahwa menjadi lajang atau tidak bukanlah hak lingkungan sosial untuk menentukan. Andalah yang paling tahu siapa diri Anda, begitu pun saat menentukan pasangan.

Baca juga: Jangan Percaya 3 Mitos Tentang Relationship Ini!

Menjadi jomblo atau memiliki pasangan adalah hak pribadi. Jika nyaman menjadi jomblo, mengapa membiarkan lingkungan sosial menekan Anda?

Meski banyak alasan masuk akal tentang menjadi jomblo happy, laporan ini juga menemukan bahwa orang lajang cenderung lebih mengkhawatirkan kondisi finansialnya. Namun, jika kemudian menjadi jomblo tetap menjadi pilihan, maka hal ini dapat dikesampingkan.

Lagipula, menjadi lajang tentu jauh lebih baik daripada terjebak dalam hubungan yang buruk dan tidak sehat. Jika Anda masih merasa gelisah sebagai jomblo, coba deh renungkan. Apakah kegelisahan Anda memang berasal dari keinginan memiliki pasangan atau dari tekanan sosial semata?

Bila jawabannya adalah karena tekanan sosial, maka mungkin Anda harus mulai menyadarkan diri sendiri. Sedekat apapun hubungan dengan teman atau keluarga, pilihan untuk memiliki pasangan atau tidak adalah hak pribadi Anda.

nuriamalia

passionate writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 5 months ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 5 months ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 5 months ago