Mau Pakai IUD? Kenali Dulu Risiko dan Komplikasinya

Risiko pasang IUD memang masih ada. Namun untungnya, risiko KB IUD modern tidaklah seburuk dugaan banyak orang.

risiko pasang iud

IUD atau spiral merupakan salah satu alat kontrasepsi yang sama efektifnya dengan vasektomi. Malahan dibandingkan vasektomi, spiral masih lebih unggul karena sifatnya non-permanen sehingga efeknya dapat diputar-balikkan.

Penggunaan spiral belakangan ini memang semakin meningkat. Tapi, metode ini ternyata belum mampu mengalahkan kepopuleran pil KB maupun kondom. Salah satu alasannya adalah karena kesalahpahaman mengenai risiko KB IUD yang belum diluruskan.

IUD dulu

Jika menoleh ke belakang, tepatnya sekitar tahun 1970an, spiral memang memiliki sejarah kelam. Pada masa itu, FDA masih terbatas wewenangnya, dan jenis spiral yang paling populer adalah Dalkon Shield.

Desainnya menggunakan benang yang tersusun dari rangkaian ratusan serat nilon halus. Bahan yang dianggap lebih kuat dan tak mudah putus ini ternyata mempermudah masuknya bakteri ke dalam rahim. Oleh karenanya, Dalkon Shield kemudian diduga menjadi penyebab infeksi panggul, keguguran, sepsis (keracunan darah), kemandulan, dan histerektomi.

Perusahaan pembuat Dalkon Shield mengetahui hal ini, namun mereka lebih memilih berbohong tentang risiko pasang IUD. Alasan paling kuatnya adalah karena takut mengalami kerugian yang besar. Akibatnya, ribuan wanita yang menjadi korban pun mengajukan tuntutan sehingga pada akhirnya Dalkon Shield ditarik dari pasaran.

Sekitar 2 tahun sejak dari peristiwa menggemparkan tersebut, FDA pun meningkatkan otoritasnya sehingga kini setiap produk yang hendak dijual di pasaran harus melalui seleksi ketatnya lebih dulu.

Nah rupanya peristiwa Dalkon Shield inilah yang membuat kebanyakan perempuan takut dengan risiko pasang IUD. Mereka tidak menyadari kalau IUD modern lebih aman daripada Dalkon Shield.

IUD modern

Kini ada 3 merk spiral yang boleh dikata paling populer yakni Mirena, ParaGard, dan Skyla. Tak seperti Dalkon Shield, alat kontrasepsi jangka panjang ini jauh lebih aman.

Sebenarnya mayoritas alat kontrol kehamilan memiliki efek sampingnya masing-masing, begitu juga dengan spiral setelah dimasukkan. Tapi pada kebanyakan kasus, efek negatif tersebut hilang dalam hitungan minggu atau bulan.

Meski jarang, komplikasi serius akibat penggunaan Mirena, ParaGard, dan Skyla memang tetap ada. Jadi bila mengalami masalah, segeralah menemui dokter.

Risiko dan komplikasi IUD

Lantas apa saja risiko dan komplikasi IUD yang mesti diketahui? Berikut beberapa di antaranya:

Perforasi

Meski jarang, namun spiral dapat menembus dinding rahim ketika dimasukkan. Akan tetapi kondisi ini pun bisa dideteksi dan diperbaiki sesegera mungkin. Kasus lainnya adalah, spiral bisa berpindah ke bagian lain dari panggul sehingga merusak organ dalam. Dalam hal ini, operasi mungkin diperlukan untuk mengambil spiralnya.

Infeksi

Walau risikonya sangat rendah setelah 20 hari pemasangan, namun IUD juga dapat menyebabkan radang panggul (PID) yang umumnya ditularkan melalui hubungan intim. Risiko seorang wanita menderita radang panggul semakin tinggi kalau ia atau pasangannya melakukan seks bebas.

PID juga dapat disebabkan bakteri yang masuk ke rahim selama proses pemasangan spiral. Kebanyakan kasus infeksi muncul dalam waktu 3 minggu setelah pemasangan. Setelah 3 minggu, risiko infeksi biasanya jarang.

Jadi kalau infeksi muncul setelah periode waktu tersebut, maka besar kemungkinan penyebabnya adalah penyakit menular seksual. Berbagai studi menunjukkan kalau IUD tidak menyebabkan PID atau kemandulan.

Spiralnya terselip keluar

IUD juga dapat terselip keluar dari rahim, baik itu sebagian maupun seluruhnya. Umumnya, ini terjadi selama beberapa bulan pertama penggunaan, tapi bisa juga setelahnya. Keluarnya spiral ini juga mungkin terjadi saat haid.

Untuk Mirena atau ParaGard, risiko keluarnya lebih tinggi pada perempuan yang belum pernah melahirkan, remaja, atau dewasa muda. Alasannya karena Skyla sedikit lebih kecil ketimbang keduanya sehingga risiko terselip keluar lebih minim pada perempuan nullipara (istilah medis untuk wanita yang belum pernah melahirkan).

Bahayanya adalah jika spiral keluar tanpa sepengetahuan, maka seseorang bisa hamil di luar rencana. Dengan begitu, bila IUD sampai keluar dan Anda belum sempat ke dokter lagi untuk membenahinya, maka gunakan kondom sebagai pengaman. Jangan sekali-kali mencoba memasukkan sendiri spiral yang telah keluar (meski hanya sebagian).

Baca juga: Waspada IUD Bergeser, Ini 8 Tandanya!

Mereka yang berisiko menggunakan IUD

Kebanyakan wanita tidak bermasalah ketika memakai spiral. Namun untuk yang berada dalam beberapa kondisi berikut, risiko komplikasinya mungkin lebih besar.

  • Penyumbatan darah serius di pembuluh darah dalam atau paru-paru
  • Menderita radang panggul selama atau dalam setahun terakhir
  • Menderita diabetes atau anemia akut
  • Darahnya sukar membeku, atau sedang minum obat untuk membantu membekukan darah
  • Menderita 2 atau lebih infeksi penyakit seksual dalam waktu 2 tahun terakhir
  • Pernah atau sedang menderita kanker ovarium
  • Minum rutin obat yang mengandung corticosteroid
  • Pernah mengalami infeksi tubal (tidak berlaku untuk perempuan yang pernah hamil pasca infeksi)
  • Menderita infeksi (tak terkontrol) di serviks atau vagina, seperti BV (vaginosis bakterialis)
  • Posisi rahim terlalu jauh ke depan atau belakang rahim
  • Memiliki sejarah sulit punya anak dan ingin tetap bisa hamil di masa mendatang

Ketahui ini

Yang mengejutkan adalah selain perempuan, masih banyak dokter yang salah persepsi mengenai risiko dan keamanan IUD. Beberapa dokter bahkan ketinggalan informasi mengenai siapa yang boleh (dan tidak) memakai spiral. Jika begitu, maka Anda perlu tahu bahwa:

  • Remaja boleh menggunakan IUD, begitu pula dengan perempuan yang belum pernah melahirkan
  • Tidak perlu spiral baru jika berganti pasangan seksual

Yang terakhir, ketahuilah kalau IUD merupakan alat kontrasepsi yang tidak menyusahkan, efektif, ramah lingkungan, dan tidak mengganggu spontanitas hubungan intim.

Waiting for the best is never useless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 2 years ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 2 years ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 2 years ago