Calon Ibu Perlu Pahami Persiapan untuk Metode IVF Ini (Part I)

Ketika sudah memutuskan untuk menjalani perawatan IVF atau bayi tabung, pasangan suami istri, terutama pihak wanita yang nantinya akan mengandung sang calon buah hati, biasanya dilanda kebingungan lebih lanjut soal prosesnya. Lalu, apa saja sih yang harus dipersiapkan? 

bayi tabung

SEBELUM perawatan IVF dilakukan, Anda biasanya diimbau minum pil KB. Meski terlihat bertolak-belakang, namun langkah ini terbukti mampu mendongkrak tingkat kesuksesan program bayi tabung. Selain itu, minum pil KB juga dapat menurunkan risiko OHSS dan kista ovarium.

Walau begitu, tak semua dokter menyarankan pil KB sebelum memulai siklus IVF. Dalam hal ini, dokter akan minta pasien untuk mencatat kapan waktu ovulasi (biasanya dengan test pack ovulasi). Di samping itu, bagi pasien yang terbiasa mencatat siklus haidnya, dokter mungkin juga memerlukan catatan suhu basal tubuh. Setelah waktu ovulasi terdeteksi, tugas Anda hanyalah memberitahukannya sesegera mungkin pada dokter.

Baca juga: Ketahui Masa Subur dengan Alat Tes Ovulasi

Kadangkala setelah ovulasi, klinik kesuburan akan mulai memberikan suntikan obat, semprotan, atau implan GnRH antagonis (Ganirelix) atau agonis (Lupron). Obat ini membantu dokter mengontrol penuh ovulasi segera sesudah perawatan mulai dijalankan.

Untuk perempuan yang tidak haid, dokter akan melakukan pendekatan lain dengan meresepkan progesteron (Provera) untuk merangsang datang bulan. Biasanya GnRH antagonis atau agonis baru diberikan 6 minggu atau lebih setelah pil Provera pertama diminum.

Ketika haid

Hari pertama perawatan IVF sebenarnya terhitung sejak hari ketika pasien menstruasi (meski sebelumnya sudah banyak obat yang digunakan pada persiapannya). Di hari ke-2 haid, dokter akan melakukan tes darah dan USG transvaginal yang mungkin agak sedikit kurang nyaman ketika dijalani.

Dengan tes darah, dokter dapat mengetahui kadar estrogen (terutama E2 atau estradiol) serta memastikan bahwa ovarium sedang ‘tidur’. Ini terjadi akibat efek suntikan GnRH antagonis sebelumnya.

Sedangkan USG dibutuhkan untuk mengecek ukuran indung telur dan dokter sekalian memeriksa kalau-kalau ada kista ovarium. Jika memang ada kista, maka dokter akan mengatasi itu dulu dan menunda perawatan hingga seminggu ke depan. Kebanyakan kista memang bisa hilang dengan sendirinya, namun dalam kondisi semacam ini, dokter akan menyedot cairan di dalamnya menggunakan jarum. Nah baru bila hasil tesnya mendukung, IVF  akan dilanjutkan.

Stimulasi ovarium dan monitoring

Tahap selanjutnya adalah menstimulasi ovarium dengan obat kesuburan. Tergantung dari protokol perawatannya, injeksi obat kesuburannya bisa berlangsung 1-4 kali setiap harinya selama 7-10 hari. Pada tahap ini, Anda mungkin sudah ahli untuk menyuntik diri sendiri, atau kalau belum, pihak RS akan mengajarkannya.

Selama proses stimulasi ovarium berlangsung, dokter akan memantau perkembangan folikel-folikelnya. Mula-mula, mungkin perlu tes darah dan USG setiap beberapa hari sekali. Dokter juga akan memonitoring kadar estradiol, dan selama USG, beliau akan mengamati pertumbuhan oositnya (telur-telur dalam ovarium).

Tahap monitoring ini amat penting karena menentukan pengobatan selanjutnya, apakah dosisnya perlu ditambah atau justru dikurangi. Begitu folikel terbesar mencapai ukuran 16-18 mm, maka RS akan minta Anda berkunjung setiap hari.

Tahap akhir pematangan oosit

Langkah berikutnya adalah membuat oosit masuk tahap akhir pematangannya dengan bantuan hCG. Ya, sel telur harus benar-benar matang sebelum diambil. Waktu injeksi hCG-nya sangat penting karena kalau terlalu dini, sel telurnya mungkin belum matang. Jika terlambat, sel telurnya mungkin sudah terlalu ‘tua’ dan tak bisa dibuahi dengan maksimal.

Guna memastikan injeksinya tepat waktu, dokter akan melakukan USG setiap hari. Biasanya, injeksi hCG diberikan saat 4 atau lebih folikel sudah mencapai ukuran 18-20mm, dan kadar estradiolnya lebih besar dari 2.000 pg/ML. Karena hanya boleh sekali suntik saja, maka dokter akan menetapkan secara akurat tepatnya pukul berapa injeksi harus dilakukan.

IVM vs IVF

Metode IVF mengharuskan sel telurnya matang sempurna sebelum diambil. Lain halnya dengan IVM (in vitro maturation), teknologi baru yang serupa IVF ini memiliki proses yang sedikit berbeda. Pada teknik IVM, sel telurnya justru diambil sebelum matang sehingga tak perlu menggunakan injeksi hCG. Nantinya sel telur tersebut akan dimatangkan di lab, dan begitu sudah matang, maka prosedur selanjutnya mirip dengan teknik IVF biasanya.

Bagaimana bila folikel tidak berkembang?

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau obat kesuburannya tidak bekerja maksimal sehingga folikelnya tidak berkembang? Dokter mungkin akan meningkatkan pengobatannya, namun bila tetap tak ada respon, maka siklusnya perawatannya akan dibatalkan.

Ini bukan berarti bahwa siklus berikutnya takkan berhasil juga. Anda mungkin hanya perlu jenis obat yang berbeda. Tapi bila terjadinya berulang kali, maka dokter biasanya menyarankan penggunaan sel telur atau embrio dari donor.

Bagaimana bila berisiko terkena OHSS?

Masalah lain yang mungkin muncul adalah ovariumnya memberikan respon lebih dari yang diharapkan. Tentu saja injeksinya akan dibatalkan dan siklusnya dihentikan bila Anda berisiko terkena OHSS.

Kemungkinan lain adlaah dokter akan mengambil sel telur, membiarkannya dibuahi, namun menunda transfer embrionya. Alasannya karena kehamilan dapat memperparah dan memperlambat pemulihan dari OHSS. Nanti begitu tubuh sudah pulih, baru embrio yang dibekukan tadi dimasukkan dalam rahim.

Selama siklus berikutnya, segalla kemungkinan bisa terjadi mulai dari pemberian obat dosis rendah, mencoba pengobatan baru sebelum siklus dimulai, atau bahkan saran memilih IVM saja dan bukannya IVF.

Jika ovulasinya prematur

Meski jarang, tapi siklus perawatan juga bisa batal kalau ovulasinya terjadi sebelum waktu pengambilan sel telur. Begitu sel telur berovulasi secara alami, maka itu sudah tidak bisa diambil. Dokter biasanya menyarankan pasangan untuk tidak berhubungan intim. Jangan abaikan peringatan ini karena jika ovulasinya mengeluarkan banyak sel telur, maka itu berbahaya bagi ibu dan anak (bila kehamilan alami sampai terjadi dari jumlah sel telur yang banyak itu).

Seberapa sering pembatalan siklus IVF?

Pembatalan terjadi pada 10-20% siklus perawatan IVF. Persentase itu dapat meningkat, tergantung dari usia – mereka yang berusia lebih dari 35 tahun umumnya lebih sering mengalami pembatalan.

Setelah proses pematangan sel telur, langkah selanjutnya adalah pengambilan sel telur. Untuk mengetahui tahap-tahapnya lebih lanjut, simak artikel berikut ini!

Waiting for the best is never useless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 7 hours ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 2 weeks ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 2 weeks ago