Calon Ibu Perlu Pahami Persiapan untuk Metode IVF Ini (Part II)

Setelah mengetahui persiapan-persiapan yang harus dilakukan calon ibu menjelang metode IVF pada artikel sebelumnya (baca di sini), saatnya memahami langkah-langkah penting pada proses pembuahan bayi tabung. Mulai dari pengambilan sel telur hingga pembuahan embrio, inilah tahap krusial yang menentukan berhasil-tidaknya metode IVF.

metode ivf

Pengambilan sel telur

Pengambilan sel telur dilakukan sekitar 34-36 jam setelah pemberian suntikan hCG. Sebelumnya dokter akan memberikan anestesi melalui infus agar pasien lebih rileks dan tak kesakitan. Anda mungkin sedikit tertidur selama prosedur berlangsung. Anestesi jenis ini tak sama seperti ketika operasi, efek samping dan risiko komplikasinya lebih kecil.

Setelah anestesinya bekerja, dokter akan menggunakan USG transvaginal untuk memandu jarum melalui dinding belakang vagina menuju ovarium. Jarum tersebut dipakai untuk mengambil cairan dan oosit dari folikel (1 oosit per folikel). Setelah itu, oosit-oosit tersebut dipindahkan ke lab embriologi untuk dibuahi.

Jumlah oosit yang diambil bervariasi dan dapat diestimasi sebelumnya melalui USG. Rata-rata jumlah oosit yang diambil antara 8-15. Setelah prosedur ini selesai, pasien diimbau beristirahat beberapa jam. Jangan cemaskan pendarahan ringan atau kram perut yang muncul karena akan hilang dengan sendirinya.

Pembuahan sel telur

Selagi memulihkan diri setelah pengambilan sel telur, setiap folikel yang diambil akan dicari (mengandung oosit/sel telur atau tidak) karena tak setiap folikel mengandung oosit. Begitu oositnya ditemukan, maka itu akan dievaluasi oleh embriologis.

Kalau terlalu matang, fertilisasi takkan berhasil. Sebaliknya bila kurang matang, maka pihak lab akan menstimulasi agar itu matang di lab.

Fertilisasi oosit harus dilakukan dalam waktu 12-24 jam, jadi suami sudah harus memberikan sampel cairan mani di pagi harinya (waktu yang sama dengan pengambilan sel telur). Karena stres bisa membuat beberapa pria sulit ejakulasi, maka mungkin ia harus memberikan samplenya lebih awal, dimana itu nantinya dibekukan hingga waktu pembuahan tiba.

Ketika sampel siap, maka itu akan melalui proses pencucian khusus lebih dulu. Fungsinya untuk memisahkan sperma dari material lain dalam cairan mani. Pakar embrio akan mencari sperma terbaik, dan meletakkan sekitar 10.000 sperma dalam setiap cawan petri bersama 1 oosit.

Setelah itu, cawan petrinya akan disimpan dalam inkubator khusus, dan setelah 12-24 jam, akan diperiksa mengenai ada-tidaknya tanda-tanda pembuahan. Rata-rata 70% oosit biasanya berhasil dibuahi, kecuali bila gangguan infertilitasnya (pada pria) parah.

Pada kasus infertilitas parah, ICSI (baca: ick-si) mungkin diperlukan untuk membuahi telurnya (jadi itu tidak akan ditempatkan dalam cawan petri).

Pemindahan embrio

Kurang lebih 3-5 hari setelah pengambilan telur, pakar embrio akan mencari embrio mana yang paling sehat melalui mikroskop atau pemeriksaan genetik (PGD atau PGS).

Kadangkala hasil PGD (preimplantation genetic diagnosis) /  PGS (premimplantation genetic screening) menyatakan embrio harus dibekukan dulu sehingga proses pemindahan ditunda hingga siklus berikutnya. Namun bisa juga, transfer embrio ‘segar’ dilakukan segera.

Prosedur pemindahan embrio ini sama seperti perawatan IUI dimana tidak diperlukan bantuan anestesi. Prosesnya melibatkan kateter yang dipasang melalui serviks. Nanti melalui alat inilah, dokter memindahkan embrionya bersamaan dengan sejumlah kecil cairan.

Soal berapa banyak embrio yang akan dimasukkan, tergantung dari kualitas dan hasil diskusi dengan dokter. Tergantung usia, biasanya sekitar 1-5 embrio yang dipindahkan, dengan jumlah rata-rata 2 embrio.

Tak sedikit dokter yang menyarankan hanya 1 embrio saja yang dimasukkan dalam rahim, sedangkan sisanya sebaiknya dibekukan. Proses yang disebut eSET (elective single embryo transfer) tersebut mampu mengurangi kemungkinan hamil kembar dan komplikasi kehamilan.

Setelah proses pemindahan selesai, pasien disarankan berbaring selama beberapa jam, baru setelah itu, ia boleh pulang.

Bila ada embrio kualitas bagus yang tersisa, maka itu dapat dibekukan dan digunakan nanti (seandainya siklus ini tak berhasil) atau didonasikan.

Krusialnya progesteron dan 2 minggu penantian

Pada hari (atau setelahnya) pengambilan sel telur, dan sebelum embrio dimasukkan dalam rahim, pasien mulai menerima suplemen progesteron – biasanya melalui suntikan. Kadangkala, progesteronnya juga bisa dalam bentuk pil, gel vagina, atau obat masuk (suppostoria).

Yang pasti dokter akan mengimbau pasien menunggu 2 minggu guna melihat apakah kehamilan benar-benar terjadi. Selama masa ini, tetaplah beraktivitas seperti biasa, hindari terlalu banyak duduk serta jauhi stres (termasuk mengkhawatirkan hasil metode IVF).

Tes kehamilan dan langkah selanjutnya

Tes kehamilan umumnya dilakukan 9-12 hari setelah pemindahan embrio, sebaiknya melalui tes darah karena dari situ kadar progesteron juga bisa dilacak. Tesnya mungkin harus dilakukan lebih dari sekali.

Bila hasilnya positif (Selamat!), maka Anda mungkin harus tetap memperoleh tambahan progesteron hingga beberapa minggu ke depan. Dokter juga akan memantau melalui tes darah dan USG guna mengamati kondisi kandungan, serta ada-tidaknya risiko keguguran atau kehamilan ektopik.

Risiko hamil bayi tabung

Di samping itu, dokter juga akan memonitor apakah perawatan menyebabkan hamil kembar. Kehamilan kembar melalui IVF, biasanya memiliki risiko lebih tinggi baik untuk ibu maupun bayinya. Risiko yang dimaksud antara lain:

Kalau hamil kembarnya lebih dari 4, maka dokter akan mendiskusikan untuk mengurangi jumlah janinnya melalui prosedur ‘multifetal pregnancy reduction’. Semua ini dilakukan agar kehamilan tetap sehat dan berhasil.

Di awal kehamilan, pelaku IVF biasanya mengalami pendarahan ringan, namun itu takkan membahayakan kandungan. Risiko kegugurannya juga sama seperti perempuan yang hamil secara alamiah, dan tergantung juga dari usia. Untuk wanita muda usia 20an, peluang keguguran hanya 15%. Risikonya melebihi 50% bagi perempuan usia 40 tahun lebih. Sedangkan risiko kehamilan ektopik dari program bayi tabung hanyalah 2-4%.

Jika program bayi tabungnya gagal

Terakhir, jika hasil tes kehamilan tetap negatif dalam 12-14 hari setelah pemindahan embrio ke rahim, dokter akan minta pasien berhenti menggunakan progesteron tambahan agar ia bisa mens lagi.

Langkah selanjutnya tergantung keputusan setiap pasangan dan dokter. Jika kegagalan terjadi pada siklus pertama, maka pasangan disarankan mencoba kedua kalinya. Hal ini mungkin berat tapi ingatlah bahwa tingkat kesuksesan proses bayi tabung justru semakin meningkat setelah beberapa kali siklus.

Baca juga: Ingin Coba Bayi Tabung? Kenali Dulu Proses dan Seluk-beluknya

Waiting for the best is never useless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 7 hours ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 2 weeks ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 2 weeks ago