5 Hal tentang Kontrasepsi yang Perlu Anda Tahu

Ternyata hanya sedikit perempuan yang tahu fakta tentang kontrasepsi. Beberapa di antaranya bahkan tidak tahu kalau ada banyak jenis-jenis kontrasepsi selain pil KB.

jenis-jenis kontrasepsi

SEKITAR 26% wanita mengandalkan pil KB sebagai alat pencegah kehamilan karena kontrasepsi ini dinilai mudah, aman, dan juga efektif. Tentu saja hal ini ada benarnya, mengingat pil KB cuma perlu diminum di jam yang sama setiap harinya dan kehamilan pun dapat dicegah.

Menariknya, kebanyakan perempuan hanya tahu sedikit soal manfaat pil KB (di samping sebagai alat pengontrol kehamilan tentunya). Mereka tidak tahu bahwa pil KB juga efektif dalam meminimalisir nyeri haid, mengurangi volume darah yang keluar ketika datang bulan, serta menghilangkan jerawat. Tentu saja ini merupakan kabar gembira bagi perempuan yang menderita karena PMS, endometriosis, atau masalah reproduksi lainnya.

Pil KB sendiri sebenarnya bervariasi, dan setiap jenisnya memberikan dampak berbeda-beda. Meski demikian, 20% penggunanya mengaku kurang puas, dan menariknya, mereka tidak tahu bahwa ada pilihan kontrasepsi lainnya di luar sana.

Karenanya, sangat penting untuk mengetahui beragam fakta tentang kontrasepsi, bukan saja karena itu adalah sesuatu yang akan ‘masuk’ dalam tubuh, melainkan juga apa saja konsekuensinya kalau penggunaannya tidak tepat. Perlu diketahui bahwa 41% kasus kebobolan terjadi akibat salah saat menggunakan kontrasepsi.

Jadi sekarang, mari kita ketahui apa saja jenis-jenis kontrasepsi dan juga fakta lain mengenai alat pencegah kehamilan tersebut.

1. Pil KB bukanlah satu-satunya

Ya benar, kan masih ada kondom. Mungkin hal itulah yang pertama kali terlintas dalam benak Anda. Nyatanya, selain kondom dan pil KB, masih ada jenis-jenis kontrasepsi lain yang sistem kerjanya juga melibatkan hormon. Kontrasepsi hormonal non-oral (bukan diminum) berikut misalnya, seringkali sama menguntungkannya dengan pil, dan efek sampingnya pun lebih rendah.

Patch (Koyo)

Kontrasepsi koyo plastik berwarna beige berukuran 5×5 cm ini mampu melepaskan hormon melalui kulit. Agar tidak hamil, Anda cuma perlu memakainya setiap hari dan menggantinya seminggu sekali. Kontrasepsi hormonal ini cocok untuk perempuan yang suka lupa minum pil KB setiap hari. Penggunaannya pun mudah, tinggal ditempel (ya, walau beberapa wanita mengeluh koyonya mudah lepas).

Implan

Susuk yang ditanamkan di bawah kulit lengan ini umumnya mengandung progestin yang fungsinya menekan ovulasi. Implan yang sama besarnya dengan sebatang korek api ini harus dimasukkan dan dilepas oleh dokter ahli. Daya tahannya berlangsung hingga 3 tahun lamanya.

Akan tetapi, kontrasepsi hormonal satu ini dapat memicu beragam efek samping seperti pendarahan tak teratur, perubahan mood, jerawat, kenaikan berat badan, hingga perubahan hasrat seksual. Untungnya, semua gejala tersebut akan sirna dengan sendirinya setelah pemakaian beberapa bulan.

Cincin

Kontrasepsi hormonal yang bentuknya seperti cincin ini dapat dipasang sendiri di rumah. Alat ini aktif bekerja efektif untuk 1 siklus haid dan harus tetap berada dalam vagina selama 3 minggu. Anda baru melepasnya di minggu ke-4.

Dibanding metode lain, kadar hormon dalam cincin vagina paling rendah sehingga efek sampingnya juga lebih sedikit. Kebanyakan penggunanya tidak merasakan keberadaannya, namun jika tak nyaman ketika berhubungan intim, lepaskan itu. Tenang, tingkat keefektifannya masih ada hingga 24 jam berikutnya.

Suntikan

Kontrasepsi progestin lainnya adalah melalui injeksi yang efek pencegahan kehamilannya mampu bertahan selama 3 bulan. Tak cuma mudah digunakan, metode satu ini juga aman untuk ibu menyusui.

Walau ada efek samping yang ditimbulkan kontrasepsi suntikan seperti perubahan mood, nafsu makan, serta aliran darah, namun gejala tersebut akan hilang dalam waktu 6 bulan.

IUD/Spiral

Ada 2 jenis Spiral: tanpa hormon (IUD tembaga) dan ada pula yang mengandung progestin sintetis. Begitu masuk ke dalam serviks, Spiral mampu mencegah kehamilan selama 3-12 tahun lamanya.

Jika dibanding kontrasepsi hormonal lainnya, Spiral digadang-gadang lebih aman bagi perokok dan penderita hipertensi. Walau penggunanya mungkin akan mengalami kram, pendarahan, dan meningkatnya darah yang keluar saat haid, namun Spiral aman bagi ibu menyusui.

Baca juga: Tepatkah Pakai IUD? Jawab Dulu 10 Pertanyaan Ini

Mini pill

Pil ini hanya mengandung progestin saja sehingga cocok untuk wanita yang tidak bisa menggunakan kontrasepsi yang memuat estrogen. Perlu diketahui, pil KB kombinasi (mengandung estrogen dan progestin) memang efektif, namun juga menghasilkan efek samping berbeda pada setiap perempuan.

2. Sesuaikan terus

Karena gejolak hormon, tubuh wanita berubah sejak remaja hingga usia 20an, 30an, 40an, dan seterusnya. Ini menyebabkan efek samping penggunaan kontrasepsi bisa muncul atau berakhir kapan saja.

Jadi bila tiba-tiba berat badan naik atau jerawat hilang setelah bertahun-tahun menggunakan pil KB merk tertentu, maka bukan formula obatnya yang berubah, melainkan tubuh Anda. Selain itu, ketahuilah bahwa obesitas umumnya menandakan keefektifan kontrasepsi mengalami penurunan.

Oleh sebab itu, jangan takut berubah haluan dan mencoba kontrasepsi lainnya karena gaya hidup maupun tubuh juga mengalami perubahan. Contoh:

  • Bila Anda berencana punya anak 1-2 tahun mendatang, maka Spiral atau implan bukanlah opsi terbaik.
  • Wanita perokok, yang usianya di atas 35 tahun, atau berisiko tinggi menderita kanker payudara juga disarankan menggunakan kontrasepsi dengan kadar hormon terendah. Selain itu, ingatlah untuk mengambil waktu jeda setelah sekian lama menggunakan kontrasepsi terus-menerus.

Saran terakhir untuk poin ini, bila ingin mengganti metode kontrasepsi atau tidak puas dengan hasil yang digunakan sekarang, selalu diskusikan lebih dulu dengan dokter.

3. Ketahuilah bahwa kebanyakan kontrasepsi pasti ada efek sampingnya

Sejarah kesehatan merupakan faktor terpenting ketika memilih kontrasepsi karena dari acuan itu, dokter bisa menimbang efek sampingnya. Contoh:

  • Pil KB tidak disarankan untuk perokok.
  • Kontrasepsi oral (minum) juga kurang aman bagi mereka yang pernah/sedang migrain, diabetes, stroke, atau penyakit jantung, karena kandungannya dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah dan hipertensi.

Bahkan bila dokter sudah memberitahukan semua kemungkinan buruknya, pil KB mungkin akan menimbulkan efek samping lain di luar dugaan yang baru reda dalam beberapa bulan ke depan. Dampak yang dimaksud meliputi:

  • Pendarahan
  • Mual
  • Infeksi vagina
  • Menurunnya hasrat seksual
  • Hipertensi
  • Sakit kepala
  • Bengkak
  • Berat badan naik
  • Depresi

Efek serius lain yang jarang terjadi adalah:

Selain itu, kontrasepsi juga bisa berinteraksi dengan obat lain. Intinya, jika mengalami efek tak mengenakkan sewaktu memakai kontrasepsi tertentu, segera konsultasikan dengan dokter.

4. Kondom tetap perlu

Hingga saat ini, kondom masih merupakan satu-satunya kontrasepsi yang dapat melindungi seseorang dari infeksi penyakit menular seksual (PMS). Ini artinya, kondom tetap harus dipakai (kecuali jika hasil tes kedua pasangan benar-benar negatif).

Sama seperti pil, kondom pun banyak macamnya mulai dari yang berbahan lateks, non-lateks, disertai pelumas ataupun tidak, dan lain sebagainya. Selain itu, ukurannya juga beragam. Jadi, jangan sampai salah pilih ukuran agar keefektifannya tetap maksimal.

Baca juga: Bingung Memilih Jenis Kondom yang Tepat? Ini Panduannya

5. Tidak boleh lalai

Sebanyak 50% kasus kebobolan terjadi akibat lalai minum pil KB. Lalai walau hanya 1-2 hari saja bisa menurunkan tingkat keefektifannya. Selain kebobolan tadi, lalai minum kontrasepsi oral teratur juga dapat memicu fluktuasi hormon sehingga efek samping yang muncul lebih buruk lagi

Bila sampai lupa pun, tak perlu minum dobel karena tindakan ini dapat memicu pendarahan berlebih, sakit kepala, dan perubahan emosional. Kalaupun lupa, mulailah lagi dari awal seperti biasanya dan pastikan untuk menggunakan kontrasepsi cadangan hingga 1 minggu ke depan.

Jadi itulah tadi beberapa fakta penting seputar kontrasepsi yang harus diketahui. Semoga setelah ini, Anda sudah bisa mengira-ngira kontrasepsi mana yang paling cocok. Langkah selanjutnya adalah tinggal mendiskusikanny dengan dokter.

Waiting for the best is never useless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 2 months ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 2 months ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 2 months ago