Trikomoniasis

Pengobatan Trikomoniasis

Pengobatan trikomoniasis dilakukan dengan terapi obat oral menggunakan antibiotik. Sebagian besar pasien akan menerima resep obat antibiotik Metronidazole.

Antibiotik yang satu ini dikenal paling efektif untuk mengatasi infeksi trikomoniasis. Pasien disarankan untuk mengonsumsi Metronidazole selama 5 – 7 hari.

Selain Metronidazole, antibiotik lain yang biasa diresepkan untuk pengobatan trikomoniasis adalah Tinidazole. Namun, pasien dilarang mengonsumsi alkohol dalam 24 jam pertama setelah mengonsumsi Metronidazole dan 72 jam pertama setelah mengonsumsi Tinidazole.

Konsumsi alkohol dalam waktu dekat setelah mengonsumsi jenis antibiotik tersebut bisa membuat pasien mengalami jantung berdebar lebih kencang, kulit kemerahan, mual dan muntah.

Pemberian antibiotik dosis besar sekali minum (dosis tunggal) memberikan efek yang sama dengan pemberian rutin jangka panjang. Akan tetapi cara pengobatan ini akan memberikan efek samping yang lebih banyak terhadap penderitanya.

Seringkali, pasangan penderita yang telah terinfeksi juga oleh penyakit trikomoniasis tidak menunjukkan adanya gejala pada alat kelamin mereka. Oleh karena itu, setiap pasangan hubungan seksual penderita wajib melakukan pemeriksaan dan pengobatan juga, atau, penderita berisiko terinfeksi lagi di kemudian hari.

Selama mengonsumsi obat yang diresepkan dokter untuk pasien trikomoniasis, maka pasien juga harus melakukan beberapa hal sebagai langkah perawatan trikomoniasis. Perawatan yang bisa dilakukan pasien selama menjalani pengobatan, antara lain menghindari hubungan seksual, terutama yang tidak menggunakan pengaman (kondom).

Jika obat yang diresepkan oleh dokter sudah habis tetapi Anda masih merasakan gejala-gejala dari trikomoniasis, maka Anda harus kembali berkonsultasi kepada dokter. Hal ini juga berlaku jika hasil tes trikomoniasis Anda negatif, tetapi Anda masih merasakan gejala penyakit ini.

Dokter mungkin akan mengajurkan Anda untuk melakukan tes lainnya guna mengindikasi adanya infeksi penyakit menular seksual lainnya.