Sifilis

Komplikasi Sifilis

Komplikasi pada sifilis terutama timbul apabila penyakit ini tidak diobati dengan benar, terutama pada tahap dini infeksi mulai terjadi. Oleh karena itu, komplikasi biasanya terjadi pada tahap sifilis tersier, dimana pengobatan sudah terlambat dilakukan dan kerusakan organ sudah mulai terjadi. Pada tahap tersier komplikasi yang timbul adalah:

  • Neurosifilis. Infeksi sifilis yang sudah merusak sistem syaraf pusat. Gejala yang timbul diantaranya adalah nyeri kepala hebat, kesulitan mengatur pergerakan otot, kelumpuhan, rasa kebas, dan demensia.
  • Sifilis okular. Kerusakan organ penglihatan akibat sifilis. Gejala yang timbul adalah penurunan tajam penglihatan hingga kebutaan.
  • Kardiovaskular sifilis. Serangan jantung dan kerusakan pembuluh darah akibat infeksi sifilis.
  • Stroke. Diakibatkan kerusakan pembuluh darah otak karena sifilis.
  • Gumma. Yaitu peradangan dalam bentuk benjolan tumor yang luas pada tubuh dan kulit yang bisa tumbuh hingga lapisan dalam mencapai tulang.
  • Pada kasus ekstrim, sifilis dapat menimbulkan kematian penderitanya.

Komplikasi sifilis khususnya pada ibu hamil biasanya berakibat fatal karena dapat mengakibatkan keguguran, kematian bayi saat proses kelahiran, ataupun kelahiran prematur. Selain itu, ibu hamil yang menderita penyakit menular seksual ini juga berisiko menularkan sifilis pada janinnya. Kondisi ini biasanya disebut sebagai sifilis kongenital.

Tak hanya membahayakan nyawa, namun bayi yang terlahir dengan sifilis kongenital beresiko mengalami:

  • Lahir cacat
  • Gangguan dalam tumbuh-kembangnya
  • Ruam
  • Demam
  • Kejang
  • Pembengkakan hati atau limpa
  • Anemia, yaitu penurunan kadar sel darah merah pada darah
  • Penyakit kuning akibat peradangan hati dan empedu
  • Risiko terinfeksi sekunder oleh mikroorganisme lain

Dan bila komplikasi sifilis pada bayi gagal terdeteksi, maka besar kemungkinan ia akan mengalami gejala akhir dari sifilis sehingga menyebabkan kerusakan multiorgan terutama pada tulang, gigi, mata, telinga, serta otaknya.

Penderita sifilis juga beresiko mengidap HIV. Hal ini dikarenakan luka yang ditimbulkan oleh sifilis membuat virus HIV dapat masuk dengan mudah ke dalam tubuh dan Risiko juga semakin tinggi karena kedua penyakit ini merupakan penyakit menular seksual.

Karena penyakit AIDS tidak memiliki gejala spesifik dan memiliki window period dimana pada tahap ini pasien bisa tidak memiliki gejala apapun, maka pada setiap penderita sifilis akan lebih aman untuk juga dilakukan screening terhadap infeksi HIV.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah seseorang yang mengidap HIV bisa jadi mengalami gejala sifilis yang berbeda dengan mereka yang tidak. Oleh sebab itu, bagi penderita HIV, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tentang gejala sifilis lebih lanjut.