Pilihan Kontrasepsi Terbaik untuk Ibu Menyusui

“Tenang, Anda takkan bisa hamil selagi sedang menyusui.” Eits, siapa bilang? Ibu menyusui tetap bisa hamil, lho. Oleh karenanya, kontrasepsi untuk ibu menyusui tetap diperlukan pada masa ini. Namun pil KB untuk ibu menyusui mana ya yang kira-kira aman?

KETIKA buah hati lahir, kebanyakan ibu terlalu sibuk untuk mengurusi kebutuhan si kecil sehingga seringkali ia lupa akan pentingnya kontrasepsi untuk ibu menyusui. Memang, beberapa kalangan menganggap kalau menyusui bisa mencegah kehamilan. Namun untuk ini, ada beberapa syarat tertentu yang mesti dipenuhi. Nanti akan kita bahas lebih lanjut mengenai hal ini.

Karenanya, jangan mengira Anda takkan bisa hamil hanya karena belum haid lagi sejak melahirkan. Ingatlah bahwa ovulasi terjadi sebelum haid. Jadi, kalau Anda berhubungan intim tanpa pengaman menjelang atau saat ovulasi, maka kehamilan bisa saja terjadi.

Inilah alasan mengapa menstruasi tidak bisa dijadikan patokan kesuburan. Pasangan yang tak ingin buru-buru menambah momongan lagi dalam waktu dekat, harus tetap menggunakan pil KB untuk ibu menyusui.

Namun karena sedang menyusui, tentulah ibu harus lebih teliti dalam memilih kontrasepsi yang aman agar tak sampai merusak kualitas ASI. Dan berikut 4 jenis kontrasepsi untuk ibu menyusui yang bisa dipilih setelah berkonsultasi dengan dokter:

1. Progestin

Sesuai namanya, kontrasepsi ini hanya melibatkan hormon progestin saja dalam penggunaannya. Untuk mendapatkannya, Anda butuh resep dari dokter. Meski progestin nantinya akan masuk ke dalam ASI, namun hormon ini takkan membahayakan si kecil.

Progestin juga takkan menurunkan jumlah produksi ASI. Dan dibanding metode non-hormon, kontrasepsi progestin seringkali lebih efektif. Kontrasepsi progestin inipun datang dalam beberapa tipe seperti:

  • Pil KB mini yang hanya mengandung progestin (tanpa estrogen) – umumnya terdiri dari 28 pil/paket yang pas untuk 4 minggu pemakaian. Biasanya, tidak ada pil plasebo dalam pil KB jenis ini.
  • Implan – selain diminum, kontrasepsi progestin juga bisa ditanamkan dalam tubuh. Kontrasepsi implan ini terbuat dari plastik tipis yang dapat dibenamkan di bawah kulit lengan. Alat ini nantinya akan terus-menerus melepaskan hormon progestin dosis rendah selama 3 tahun. Otomatis, kontrasepsi ini bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu tersebut. Namun kalau pasangan ingin menambah momongan sebelum 3 tahun, maka implan bisa dilepas kapan saja.
  • Suntikan – begitu hormon progestin disuntikkan dalam pembuluh darah, maka kehamilan dapat dicegah hingga periode waktu 11-14 minggu lamanya. Agar tingkat keefektifan suntikan kontrasepsi progestin tidak menurun, maka Anda harus tahu kapan saatnya untuk suntik lagi.
  • Spiral/IUD – setelah dipasang oleh dokter, spiral akan melepas kadar progestin dosis rendah selama 3-5 tahun lamanya. Kelak bila ingin punya anak lagi, Anda tinggal minta dokter untuk melepaskannya. Dibanding metode sebelumnya, tentu saja IUD jauh lebih praktis dan efektif.

2. Non-hormon

Bagi pasangan yang enggan menggunakan kontrasepsi hormonal, maka metode non-hormon bisa jadi alternatifnya. Pasangan bahkan bisa dengan mudah membeli kontrasepsi non-hormonal di toko obat terdekat. Jenis kontrasepsi yang masuk golongan ini antara lain:

  • Kondom pria. Ada banyak tipe, ukuran, bahan, serta harga yang bisa dipilih sesuai selera. Namun walau beberapa kondom pria sudah dilengkapi pelumas, ibu menyusui seringkali memiliki kadar estrogen yang rendah. Ini artinya, vagina sering berada dalam kondisi kering. Jadi bila kondom mengiritasi vagina, jangan segan untuk menambahkan pelumas alami yang aman.
  • Kondom wanita. Tujuan pemakaian kondom wanita tentunya untuk menahan sperma agar tak sampai masuk dalam tubuh. Dalam penggunaannya, wanita yang belum terbiasa hanya perlu sering latihan saja sampai merasa nyaman saat memakainya.
  • Spermisida. Bentuknya beda dengan kondom wanita, namun cara kerjanya sama. Spermisida harus dimasukkan jauh ke dalam vagina sebelum hubungan intim dimulai. Setelah dipasang, spermisida akan menciptakan suatu penghalang untuk sperma. Kandungan nonoxynol-9 dalam spermisida juga bisa membunuh sperma.
  • Spons. Bentuk bulatnya dapat memblokir leher rahim sehingga sperma tak bisa masuk ke dalam rahim. Kontrasepsi spons biasanya juga mengandung spermisida sehingga mencegah sperma berenang. Hanya butuh beberapa kali latihan untuk memasukkan spons dalam tubuh agar bisa nyaman saat menggunakannya.
  • Diafragma atau cervical cap (yang lebih kecil). Kontrasepsi ini hanya bisa digunakan 6 minggu pasca melahirkan. Baik diafragma maupun cervical cap harus dimasukkan lewat vagina dengan bantuan dokter. Keduanya harus dipakai bersamaan dengan krim spermicidal sehingga sperma tak bisa berenang masuk ke rahim.
  • Spiral non-hormonal. Jenis spiral ini juga perlu bantuan dokter untuk memasukkannya dan bisa mencegah kehamilan hingga 10 tahun lamanya. Namun kalau ingin punya anak lagi sebelum itu, Anda tinggal minta dokter untuk melepaskannya saja.

3. Alami

Sesuai istilahnya, kontrasepsi ini tidak melibatkan penggunaan alat atau hormon tertentu. Pencegahan kehamilan secara alami ini bisa dilakukan dengan 2 cara:

Terus menyusui

Kalau dilakukan dengan tepat, metode ini bisa menunda ovulasi hingga 6 bulan pasca melahirkan. Jika ovulasi tak terjadi, maka otomatis tak ada sel telur yang dilepaskan sehingga walau sperma berhasil masuk dalam rahim, tetap tak ada sel telur untuk dibuahi. Mengapa metode ini efektif? Karena hormon yang merangsang produksi ASI seringkali juga mencegah produksi hormon penyebab ovulasi.

Walau begitu, Anda tidak disarankan mengandalkan metode ini sesudah 6 bulan berlalu, atau kalau sudah haid lagi sejak melahirkan. Selain itu, metode ini hanya efektif untuk ibu yang menyusui minimal 6 kali sehari dengan kedua payudaranya, dan tidak menggunakan makanan pengganti lainnya. Syarat lain keberhasilan metode ini adalah, ibu harus menyusui setiap 4 jam sekali saat pagi-siang, dan setiap 6 jam sekali di waktu malam.

Baca juga: Seberapa Cepat Wanita Bisa Hamil Lagi Usai Melahirkan?

Memonitor perubahan tubuh

Tujuannya adalah untuk mencari tahu kapan terjadinya ovulasi. Meski termasuk salah satu metode pencegah kehamilan, namun pihak WHO memperingatkan kalau cara ini mungkin kurang efektif untuk ibu menyusui. Anda disarankan tidak memakai cara ini sampai gejala kesuburan nampak (misalnya cairan servikal), sudah haid 3 kali, atau mulai menggunakan makanan pengganti ASI untuk si kecil.

4. Permanen

Kalau keputusan pasangan sudah bulat untuk tidak menambah momongan lagi, maka kontrasepsi permanen bisa jadi pertimbangan. Tapi ingat, begitu Anda memutuskan mengambil langkah ini, kondisinya tak bisa dikembalikan lagi (takkan bisa hamil lagi nantinya).

Ibu menyusui yang mengalami depresi atau trauma pasca melahirkan ada baiknya juga tidak buru-buru memiliki kontrasepsi ini agar tidak menyesal dengan keputusannya di kemudian hari. Soal jenisnya, kontrasepsi permanen dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Ligasi tuba – melibatkan operasi untuk mengikat saluran tuba falopi. Namun metode ini membutuhkan bantuan anestesi yang pastinya bisa ‘mencemari’ ASI dan berdampak pada bayi (jadi gampang mengantuk).
  • Implan tuba tak membutuhkan prosedur bedah maupun anestesi, karena caranya hanya dengan memasukkan 2 buah logam kecil (essure) untuk memblokir saluran tuba falopi sehingga sel telur tak bisa masuk rahim, dan sperma juga tak bisa mencapai tuba falopi untuk bertemu sel telur.
  • Vasektomi – sterilisasi untuk pria tentu saja tak ada hubungannya dengan ibu menyusui. Setelah melakukannya, tubuh tetap akan menghasilkan cairan mani yang tidak mengandung sperma sehingga pembuahan tak mungkin terjadi.

Itulah beberapa pilihan kontrasepsi terbaik untuk ibu menyusui. Manakah yang disarankan dokter untuk Anda?

Sow good seed for you don't know which sowing will succeed, this, or that, or if both will do well.