Oligomenorrhoea

Gejala Oligomenorrhoea

Gejala oligomenorrhoea yang paling utama tentu saja absennya menstruasi dari siklus biasanya, dimana si penderita tidak mengalami siklus menstruasi melewati masa 35 hari atau hanya mengalami 4 sampai 9 kali siklus dalam satu tahun.

Selain hal di atas, oligomenorrhoea juga memiliki gejala sekunder yang disebabkan oleh penyebab sistemik yang mungkin lebih serius. Gejala sekunder Oligomenorrhoea yang dapat timbul bersamaan dengan absennya menstruasi:

  • Puting mengeluarkan air susu
  • Rambut rontok
  • Nyeri atau sakit di kepala
  • Gangguan penglihatan
  • Bulu di bagian wajah tumbuh secara berlebihan
  • Nyeri panggul
  • Berjerawat

Gejala-gejala tersebut lebih ke gejala gangguan siklus menstruasi yang terlalu umum atau gangguan menstruasi sekunder, tidak spesifik, dan berhubungan langsung dengan oligomenorrhoea. Selain bisa disebabkan oleh oligomenorrhoea, timbulnya gejala tersebut bisa merupakan indikasi adanya penyakit lain dari gangguan sistemik atau hormonal yang lebih berat.

Gejala oligomenorrhoea yang harus segera dikonsultasikan dengan dokter spesialis kandungan adalah jika perempuan tidak mengalami menstruasi selama 90 hari berturut-turut dan penderita sedang tidak dalam program KB. Oligomenorrhoea sendiri bukanlah suatu kondisi yang serius namun bisa jadi sebagai efek samping obat-obatan, indikasi penyakit lain yang berkenaan dengan kesehatan organ reproduksi, atau penyakit serius sistemik lainnya.

Tidak semua gangguan menstruasi merupakan indikasi dari penyakit serius. Beberapa gangguan siklus menstruasi terjadi secara natural pada ibu hamil, ibu menyusui, dan wanita pada fase menopause.

Untuk mengetahui siklus menstruasi Anda, sebaiknya selalu catatlah tanggal awal datang bulan dan hari pertama haid terakhir (HPHT). Dengan begitu, Anda pun mempunyai catatan siklus dan akan lebih peka jika terjadi perubahan-perubahan seperti misal, siklus menstruasi yang tiba-tiba berubah.