Oligomenorrhoea

Diagnosis Oligomenorrhoea

Untuk mendapatkan diagnosa pasti Oligomenorrhoea, dokter akan melakukan serangkaian tes terhadap si penderita. Di pertemuan pertama, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, diantaranya pemeriksaan kondisi kesehatan panggul untuk mengecek apabila ada kelainan pada organ reproduksi.

Pada wanita yang belum pernah menstruasi, dokter akan memeriksa payudara dan alat kelamin untuk melihat apakah pasien mengalami perubahan yang abnormal pada masa pubertasnya.

Dalam menentukan kriteria diagnosis penyakit yang lebih pasti, dokter mungkin akan memerlukan lebih dari satu jenis tes.

Tes Laboratorium

Beberapa jenis tes laboratorium perlu dilakukan untuk mendapatkan diagnosa pasti ligomenorrhoea, diantaranya adalah beberapa jenis tes di bawah ini:

  • Tes kehamilan, tes ini akan disarankan pertama kali oleh dokter untuk memastikan apakah pasien hamil atau tidak.
  • Tes fungsi tiroid, jumlah hormon TSH dalam darah dapat menentukan apakah kelenjar tiroid bekerja dengan baik atau tidak. Kelainan kadar hormon tiroid dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi.
  • Tes fungsi ovarium, jumlah hormon FSH dalam darah juga dapat menentukan apakah ovarium bekerja normal atau tidak.
  • Tes proklaktin, jika hormon prolaktin dalam darah rendah, ini bisa menjadi tanda tumor kelenjar otak. Penekanan kelenjar otak akibat tumor dapat menekan fungsi hormon hipotalamus yang mengatur sekresi hormon reproduksi dan siklus menstruasi.
  • Tes hormon pria, jika pasien mengalami tumbuhnya bulu berlebih pada bagian wajah dan suaranya menjadi rendah dan berat, dokter akan melakukan tes darah untuk meilihat kadar hormon pria (hormon androgen) dalam tubuh. Ketidakseimbangan hormon androgen pada wanita dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi.

Tes Hormon

Dokter akan memberikan obat hormon sintetik untuk dikonsumsi selama 7 sampai 10 hari untuk memicu terjadinya menstruasi. Dengan melakukan tes hormon ini, dokter bisa menentukan diagnosis oligomenorrhoea pada pasien dikarenakan gangguan ketidakseimbangan hormon estrogen atau disebabkan oleh penyakit lainnya.

Tes Pencitraan (Imaging Test)

Dokter akan menyarankan dilakukan tes lanjutan tergantung dari gambaran penyakit dan gejala oligomenorrhoea yang timbul dan hasil tes darah yang sudah dilakukan. Tes pencitraan yang direkomendasikan untuk dilakukan diantaranya salah satu dari tes berikut:

  • Ultrasound. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar organ internal. Jika pasien mengalami gangguan siklus menstruasi, dokter akan melakukan tes USG untuk melihat apakah ada keabnormalan dalam organ reproduksi.
  • Computerized tomography. CT scan diambil dari berbagai sisi untuk melihat organ dalam tubuh dengan lebih jelas. CT scan dalam kasus ini untuk melihat apabila uterus dan ovarium mengalami kelainan anatomi atau tidak.
  • Magnetic resonance imaging. MRI menggunakan gelombang radio dengan medan magnet yang kuat untuk melihat jaringan lunak yang terdapat dalam tubuh dengan lebih mendetail. Pada kasus ini, MRI dilakukan untuk melihat kemungkinan oligomenorrhoea sebagai komplikasi sekunder dari tumor otak.

Tes Endoskopi Kandungan

Jika serangkaian tes di atas sudah dilakukan dan tidak memberikan gambaran yang spesifik dari penyebab gangguan oligomenorrhoea, maka dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan tes endoskopi kandungan – histeroskopi. Metode pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan suatu alat atau instrumen untuk memeriksa ruangan/saluran pada kandungan wanita, melalui vagina hingga uterus.