Menopause pada Pria, Mitos atau Fakta?

Tips Sehat

Menopause pada pria bukan mitos. Hanya saja, tanda menopause pria berbeda dengan yang dialami wanita.

gejala andropause

SEIRING bertambahnya usia, perubahan hormon memang merupakan hal yang wajar terjadi. Namun tak seperti pada wanita menopause yang mengalami perubahan hormon secara drastis, hormon seksual pada pria berubah secara perlahan.

Pada wanita, menopause memang ditandai dengan berhentinya ovulasi dan morat-maritnya hormon estrogen selama jangka waktu tertentu. Namun tanda menopause pria tidaklah seekstrim itu. Produksi testosteron dan hormon lainnya memang menurun, tapi biasanya itu memakan waktu bertahun-tahun lamanya, sehingga tak menimbulkan gejala yang mengganggu.

Ketimbang menganggapnya sebagai tanda menopause pria, kebanyakan dokter malah lebih suka menggunakan istilah andropause untuk menggambarkan perubahan hormon akibat bertambahnya usia tersebut.  

Jika menopause pada wanita terjadi sekitar umur 40 tahunan, lantas berapakah usia andropause pada pria?

Sebenarnya kadar testosteron antara pria satu dengan lainnya bisa berbeda. Akan tetapi pada umumnya, pria yang usianya lebih tua memang memiliki kadar testosteron lebih sedikit dibanding pria muda.

Dikarenakan kadar testosteron pada pria menurun secara perlahan (sekitar 1% setiap tahun) setelah ia berumur 30 tahun, maka boleh dikatakan bahwa mulai umur itulah usia andropause pada pria.

Bagaimana cara mengetahui, Anda sudah masuk masa andropause atau belum?

Guna memastikan apakah seorang pria memang sudah masuk usia andropause atau belum, perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut. Hingga saat ini, tes darah masih merupakan satu-satunya cara untuk mendiagnosa kadar testosteron karena turunnya level hormon tersebut seringkali tidak disertai dengan gejala tertentu.

Baca juga: Cara Menyeimbangkan Hormon Testosteron

Akan tetapi kalaupun ada gejala yang timbul akibat menurunnya testosteron, maka itu biasanya merupakan beberapa kondisi berikut:

1. Perubahan fungsi seksual

Perubahan yang dimaksud meliputi menurunnya hasrat untuk berhubungan, disfungsi ereksi, rendahnya ereksi yang spontan terjadi (misalnya saat tidur), serta infertilitas. Dalam hal ini, perubahan fisik yang mungkin tampak adalah ukuran testis jadi mengecil ketimbang sebelumnya.

2. Pola tidur terganggu

Seringkali, turunnya kadar testosteron bisa mengganggu kualitas tidur, sehingga Anda mengalami insomnia, atau sebaliknya merasa lebih sering ngantuk.

3. Perubahan fisik

Meningkatnya lemak tubuh, berkurangnya massa dan kekuatan otot, serta kepadatan tulang bisa juga terjadi karena turunnya kadar testosteron dalam tubuh. Efek lain yang bisa jadi muncul adalah bagian dada bengkak atau melunak, rambut (bukan hanya di kepala) rontok, muncul keringat dingin, hingga tubuh kurang berenergi.

4. Gangguan emosional

Rendahnya kadar testosteron dapat juga menyebabkan seorang pria kurang motivasi dan percaya diri. Ia bahkan bisa mudah sedih, depresi, sukar konsentrasi, hingga jadi pelupa.

Namun berbagai gejala di atas tak hanya mungkin dipicu oleh rendahnya testosteron, melainkan faktor lain seperti efek samping obat, gangguan tiroid, depresi, hingga konsumsi alkohol berlebihan. Kondisi lain seperti sleep apnea juga bisa memengaruhi kadar testosteron. Oleh karenanya, untuk mengetahui pasti apa penyebabnya, Anda harus segera periksa ke dokter.

Apa yang bisa dilakukan kalau hormon testosteron memang menurun?

Kalaupun ternyata benar bahwa rendahnya kadar testosteron adalah penyebab semuanya ini terjadi, maka Anda bisa mendongkrak produksi hormon tersebut melalui beberapa cara berikut:

1. Jujurlah pada dokter yang Anda temui

Untuk bisa ‘pulih’, Anda tentu harus jujur dan terbuka pada dokter agar penyebabnya bisa ditangani dengan tepat. Tak usah malu mengatakan padanya kalau obat yang Anda konsumsi selama ini ternyata menyebabkan disfungsi ereksi atau gangguan performa seksual lainnya.

2. Jalani pola hidup sehat

Mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga teratur, semua ini dapat mempertahankan kekuatan, energi, dan kepadatan otot. Olahraga teratur bahkan bisa mendongkrak mood dan mencegah insomnia.

3. Cari bantuan kalau Anda sedang down

Jika Anda merasakan adanya gangguan emosional seperti lelah, gelisah, mudah tersinggung, hingga gampang marah, maka tak ada salahnya untuk mencari bantuan. Jangan abaikan kondisi semacam ini karena tak hanya bisa merusak karir serta hubungan dengan sesama, tapi juga dapat membuat Anda putus asa bahkan ingin bunuh diri.

4. Hati-hati dengan obat herbal

Sayangnya, kebanyakan obat herbal belum terbukti keampuhannya dalam mendongkrak kadar testosteron. Beberapa suplemen bahkan memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. DHEA misalnya, selain terbukti tak ada khasiatnya, pemakaian jangka panjang suplemen ini malahan bisa memicu timbulnya kanker prostat.

5. Yang perlu diketahui soal terapi hormon

Sama halnya dengan obat herbal, metode pengobatan terapi hormon (testosteron sintetis) juga masih kontroversial. Beberapa pria memang mendapati dirinya lebih baik, namun ada pula yang tak merasakan dampak apapun setelah menerima terapi testosteron.

Lagipula, terapi testosteron bukannya tanpa risiko. Di antara semua risiko yang mungkin ditimbulkannya, sleep apnea, serangan jantung, stroke, penyumbatan darah, hingga kanker prostat merupakan efek samping yang jelas tak bisa dianggap remeh.

Namun kalau Anda ingin tetap mencobanya, maka konsultasikan terlebih dulu dengan dokter sedetil mungkin mengenai kelebihan dan kekurangan metode ini agar tak menyesal nantinya.

Sow good seed for you don't know which sowing will succeed, this, or that, or if both will do well.