Masih “Ejakulasi di Luar”? Ini Risikonya!

Banyak yang meyakini, ejakulasi di luar vagina saat berhubungan intim dapat mengurangi risiko kehamilan. Coba pikirkan lagi! Sudah yakin aman atau ada risiko lain yang justru belum Anda tahu?

EJAKULASI ‘di luar’ atau dikenal juga dengan metode withdrawal masih dianggap sebagai salah satu cara aman untuk mengurangi risiko kehamilan saat melakukan hubungan intim. Banyak pasangan berasumsi bahwa jika sel sperma pria keluar di luar vagina, maka sperma yang keluar tidak akan bertahan lama dan mati sehingga risiko hamil tidak akan terjadi.

Ada juga yang memilih ejakulasi di luar karena malas menggunakan kondom dan rasa tidak nyaman saat bercinta dengan menggunakan alat kontrasepsi. Namun, lagi-lagi pernyataan ini jangan dipercayai begitu saja.

Senggama terputus menjadi pilihan agar tehindar dari kehamilan?

Ejakulasi di luar atau istilah lainnya disebut senggama terputus adalah kegiatan seksual dimana pria menarik penis keluar dari vagina sesaat sebelum mencapai klimas, lalu mengeluarkan sperma (ejakulasi) di luar area vagina. Banyak pasangan melakukan ejakulasi di luar agar terhindar dari risiko hamil.

Dan karena metode withdrawal tidak memerlukan biaya dan kerepotan menggunakan alat kontrasepsi, cara ini dianggap mudah bagi pria dan wanita.

Pilihan “ejakulasi di luar” dianggap mujarab dan mampu menggantikan kondom pria atau kondom wanita sebagai alat kontrasepsi. Namun, hal ini tidak dibenarkan oleh para ahli reproduksi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Planned Parenthood Amerika Serikat, 4 dari 100 wanita dapat hamil walaupun si pria ejakulasi di luar area vagina dan dapat memprediksi ketepatan waktu menarik penis dari vagina.

Penelitian lainnya membuktikan 27 dari 100 wanita juga hamil setelah si pria tidak bisa memperkirakan refleks klimaks saat hubungan intim, lalu terlambat untuk menarik penis keluar dari vagina. Dari penelitian ini terlihat ejakulasi di luar masih dapat menghasilkan kehamilan.

Risiko “ejakulasi di luar”

Seperti yang bisa disimpulkan, ejakulasi di luar vagina (coitus interruptus) tidak selamanya aman dari risiko kehamilan. Dari penelitian yang ada, beberapa pria memang dapat memprediksi ketepatan waktu saat menarik penis keluar dari vagina dan ejakulasi di luar.

Tapi perlu diketahui, air mani pra-ejakulasi yang keluar dari penis dapat mengandung sperma dalam jumlah sedikit. Walaupun sedikit, sperma melekat di sekitar vulva wanita dapat berenang ke dalam dan berisiko membuahi sel telur. Meskipun jumlah sperma terlihat sangat sedikit, tapi harus diingat bahwa 1 sel sperma dapat membuahi sel telur.

Selain kehamilan, senggama terputus memiliki risiko lainnya yang dapat membahayakan alat vital Anda. Peluang untuk tertular atau terjangkit penyakit kelamin sangat besar melalui cara ini. Alat kelamin Anda tidak mempunyai proteksi ketika berhubungan intim dan penyakit kelamin dapat menular dengan mudahnya melalui kontak kulit.

Selain itu, ejakulasi di luar vagina sangat tidak disarankan bagi pria yang berpotensi ejakulasi dini. Untuk melepas refleks orgasme, pria membutuhkan feeling yang kuat untuk mengatur kapan dia harus menarik penisnya dan “ejakulasi di luar”. Jika pria mengalami ejakulasi dini, maka dapat dipastikan sulit baginya untuk mengontrol agar ejakulasi terjadi di luar vagina.

Jika Anda masih “ejakulasi di luar” dengan anggapan menghindari kehamilan atau tidak nyaman dengan alat kontrasepsi seperti kondom, sebaiknya berpikir dua kali lagi. Senggama terputus bukan metode kontrasepsi yang dianjurkan para ahli.

Untuk melindungi alat vital dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan, gunakan alat kontrasepsi yang tepat saat berhubungan intim, yaitu kondom atau alat kontrasepsi lainnya.

Jika masih merasa ragu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan pencerahan. Kalau Anda peduli dengan masa depan Anda, sebaiknya segera cari tahu apa risikonya sebelum “kejakulasi di luar”.

An owl who likes coffee, movies and humanity.