Kontrasepsi Barrier

Spermisida Kontrasepsi Barrier

Salah satu jenis kontrasepsi barrier yang seringkali dikombinasikan dengan alat kontrasepsi lainnya adalah spermisida. Spermisida merupakan satu bentukkontrasepsi pencegah kehamilan yang dapat membunuh sperma.

Spermisida mengandung bahan kimia nonoxynol-9 dan bekerja dengan membangun blok kimia di pintu masuk rahim. Kontrasepsi ini hadir dalam bentuk gel, busa (foam), dan krim.

Tingkat keberhasilan spermisida dalam mencegah kehamilan adalah 78 persen. Namun, angka ini dapat meningkat hingga 95 persen jika spermisida dikombinasikan dengan alat kontrasepsi lain, seperti kondom pria maupun wanita, diafragma, dan cervical cap. Tak hanya dikombinasikan dengan jenis-jenis kontrasepsi barrier lainnya, Anda juga dapat mengombinasikan spermisida dengan penggunaan pil KB secara oral.

Sebagian besar alasan orang lebih memilih menggunakan spermisida untuk mencegah kehamilan adalah kontrasepsi ini tidak bersifat hormonal seperti pil KB. Meskipun begitu, ada pula beberapa kekurangan dari alat kontrasepsi yang satu ini, seperti:

  • Dapat menyebabkan iritasi pada vagina atau penis sehingga dapat menimbulkan infeksi saluran kemih
  • Merasa sulit dan tidak nyaman karena spermisida harus digunakan sesaat sebelum melakukan hubungan seksual
  • Dapat mempengaruhi spontanitas saat berhubungan seksual
  • Efektif dalam waktu yang terbatas, kecuali digunakan ulang saat sedang berhubungan intim
  • Tidak memberikan perlindungan terhadap pencegahan penyakit menular seksual

Setelah berhubungan seksual, sebaiknya wanita tidak langsung bangun terlebih dahulu. Usahakan wanita berbaring terlentangselama beberapa waktu untuk memastikan spermisida sudah menghancurkan sperma yang berusaha masuk.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, spermisida tidak efektif untuk mencegah penularan penyakit seksual, terutama HIV. Bahkan kandungan nonoxynol-9 di dalam spermisida dapat meningkatkan risiko infeksi HIV.

Alat kontrasepsi yang paling efektif untuk mencegah penyakit menular seksual adalah kondom pria yang berbahan lateks. Anda dapat melumasi kondom pria dengan spermisida untuk hasil yang lebih baik, tetapi jangan gunakan kondom pria yang sudah dilumasi dengan spermisida untuk penetrasi anal.