Klamidia

Perawatan Klamidia

Sebenarnya, tidak ada perawatan mandiri spesifik untuk infeksi klamidia, kecuali pengobatan dengan antibiotik sesuai dengan resep dan pemeriksaan dokter. Apabila diobati dengan baik, maka klamidia tidak akan menimbulkan efek jangka panjang. Namun bila tidak diobati, maka dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang bisa merusak organ reproduksi penderitanya.

Perawatan ini dilakukan untuk mencegah infeksi penyakit menular seksual ini menjadi semakin parah. Satu hal yang paling penting, pasien klamidia harus lebih memperhatikan kebersihan alat kelaminnya.

Adakah cara untuk melakukan perawatan klamidia sembari pasien menjalankan pengobatan medis? Tentu saja bisa. Pasien klamidia dapat melakukan perawatan sederhana dengan beberapa hal berikut ini:

Menjaga kebersihan alat kelamin

Baik pria maupun wanita yang mengalami infeksi klamidia sebaiknya mulai saat ini lebih memperhatikan kebersihan alat kelamin. Misalnya, pasien klamidia berjenis kelamin wanita bisa menggunakan cairan antiseptik pembersih organ intim kewanitaan. Sementara itu, pria bisa mengelap ujung penis dengan tisu setelah buang air kecil atau rajin berganti pakaian dalam.

Mengonsumsi obat sesuai dengan resep dokter

Ketika pasien klamidia berkonsultasi kepada dokter, maka dokter akan meresepkan sejumlah obat, termasuk antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab penyakit seksual ini. Tugas seorang pasien tentu saja mengonsumsi obat yang sesuai dengan anjuran dokter. Jangan berhenti mengonsumsi obat sebelum obat yang diresepkan kepada anda habis. Habiskan obat antibiotik yang anda terima berdasarkan resep dokter.

Tidak berhubungan seks selama dirawat

Selama pasien menjalani pengobatan infeksi klamidia, sangat disarankan untuk tidak berhubungan badan terlebih dahulu dengan pasangan atau orang lain. Setidaknya tunggu 7 hari setelah Anda menghabiskan obat antibiotik, baru Anda diperbolehkan untuk berhubungan seks.

Meskipun penderita klamidia atau pasangannya menggunakan kondom, tapi tetap saja pasien klamidia tidak dianjurkan untuk bersenggama. Pasalnya, pasien harus benar-benar memperhatikan kebersihan organ intim selama masih menjalani pengobatan. Pasien harusnya menghindari berbagai jenis aktivitas seksual, baik itu penetrasi, seks oral, maupun seks anal.