Klamidia

Komplikasi Klamidia

Pada umumnya, beberapa penyakit menular seksual seperti klamidia bisa disembuhkan. Namun penyakit yang bisa disembuhkan bukan jaminan tidak menimbulkan komplikasi.

Klamidia menyebabkan beberapa komplikasi pada penderitanya. Oleh karena itu, penyakit yang satu ini tidak bisa dianggap sepele dan harus segera mendapat pengobatan yang tepat.

Deteksi dini setiap kelainan dan gejala yang timbul pada diri Anda, selalu waspada akan kondisi genital Anda, dan pengobatan yang sesuai serta tuntas adalah kunci untuk kesembuhan dan mencegah terjadinya komplikasi.

Berikut ini adalah beberapa komplikasi klamidia yang sering ditemukan pada penderitanya:

  • Infeksi penyakit menular seksual lainnya. Penderita klamidia berisiko tinggi untuk juga terinfeksi gonore dan HIV, virus yang menyebabkan AIDS. Infeksi menular seksual terutama AIDS adalah penyakit asiptomatis, yaitu tidak adanya gejala dan bisa menular berbarengan dengan penyakit menular seksual lainnya. Sehingga, sangat bijak jika Anda juga memeriksakan kemungkinan terinfeksi penyakit lainnya.
  • Penyakit radang panggul. Penyakit ini merupakan infeksi pada rahim dan saluran telur yang menyebabkan rasa nyeri di sekitar panggul yang disertai dengan demam. Infeksi yang parah membuat pasien klamidia harus menjalani rawat inap di rumah sakit agar dapat diobati dengan antibiotik melalui jalur intravena. Penyakit radang panggul ini bisa merusak tuba falopi dan ovarium maupun rahim, termasuk leher rahim. Oleh karena itu, komplikasi dari penyakit ini dapat menyebabkan infertilitas. Dan apabila infeksi mencapai aliran darah dan menyebabkan sepsis, maka berpotensi menyebabkan kematian.
  • Infeksi di epididimitis. Infeksi klamidia dapat menyebar ke saluran melingkar yang terletak di samping masing-masing testis atau disebut juga epididimitis. Gejala yang berkembang dari infeksi ini antara lain adalah demam, nyeri skrotum kantung testis, dan pembengkakan pada testis dan skrotum.
  • Infeksi kelenjar prostat. Bakteri penyebab klamidia dapat menyebar hingga ke kelenjar prostat pria. Infeksi di kelenjar prostat atau prostatitis dapat menimbulkan rasa sakit selama atau setelah berhubungan seks dikarenakan prostat adalah organ yang berfungsi mensekresikan semen ketika ejakulasi. Rasa sakit ini juga disertai dengan demam dan menggigil, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri punggung bawah.
  • Infeksi pada bayi yang baru lahir. Seorang ibu hamil yang terinfeksi klamidia dapat menularkan penyakit ini ke bayi yang berada dalam kandungannya. Komplikasi klamidia pada bayi yang baru lahir dapat berupa pneumonia atau infeksi mata berat.
  • Infertilitas. Komplikasi lainnya yang disebabkan oleh klamidia mungkin tidak berdampak pada kesehatan penderitanya sehari-hari. Akan tetapi, penyakit menular seksual ini dapat menimbulkan jaringan parut dan obstruksi di saluran tuba. Saluran tuba adalah saluran yang menghubungkan inding telur dan rahim. Saluran ini adalah tempat sel telur keluar menuju rahim untuk dibuahi oleh sel sperma. Kondisi ini dapat mengganggu kesuburan wanita.
  • Reactive athritis. Dikenal juga dengan nama Sindrom Reiter, umumnya mempengaruhi sendi lutut dan panggul.
  • Bartholinitis. Kondisi dimana kelenjar bartholin, yang memproduksi cairan pelumas saat wanita berhubungan seksual, membengkak. Kista kelenjar bartholin bisa terjadi ketika kelenjar terinfeksi. Selain itu, kondisi ini bisa menyebabkan abses yang sakit bila disentuh dan berwarna kemerahan.

Untuk menghindari sejumlah komplikasi klamidia di atas, pasien harus tanggap terhadap gejala yang dialami dan segera mencari pengobatan medis yang tepat. Komplikasi-komplikasi ini biasa terjadi ketika seorang pasien klamidia tidak sadar atau menganggap remeh infeksi penyakit menular seksual tersebut dan tidak mendapatkan pengobatan yang tepat dan tuntas untuk mengatasi infeksi klamidia tersebut.