Klamidia

Gejala Klamidia

Klamidia merupakan penyakit menular seksual yang bisa menyerang pria maupun wanita. Sebagian orang tidak merasakan tanda-tanda klamidia, sehingga mereka tidak tahu bahwa sudah terinfeksi klamidia. Oleh karena itu, klamidia seringkali disebut infeksi genital senyap.

sekitar 2 dari 3 wanita dan 1 dari 2 pria penderita klamidia melaporkan bahwa mereka tidak merasakan adanya gejala dari klamidia. Tahap awal infeksi klamidia biasanya tidak menunjukkan adanya gejala atau hanya timbul gejala tidak spesifik, sehingga tidak disadari oleh penderita.

Penelitian menunjukkan gejala klamidia biasanya timbul setelah tiga minggu infeksi klamidia terjadi. Namun, mengingat infeksi klamidia ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saluran reproduksi, maka sangat penting untuk mengenali ciri-ciri klamidia agar penderita dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Gejala klamidia biasanya dirasakan penderitanya 1-3 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang dirasakan oleh setiap penderita bisa berbeda-beda. Gejala klamidia biasanya sangat mirip dengan gejala gonore, sehingga seringkali pemeriksaan gonore juga dilakukan untuk mendeteksi penyakit tersebut. Berikut ini adalah gejala infeksi klamidia sesuai dengan jenis kelamin penderitanya.

Gejala Klamidia pada Wanita

  • Peradangan pada serviks (servisitis)
  • Keputihan abnormal yang disertai dengan bau tak sedap
  • Pendarahan di luar periode menstruasi
  • Nyeri yang melebihi biasanya pada saat menstruasi
  • Nyeri perut disertai demam
  • Rasa sakit ketika berhubungan seks
  • Gatal atau sensasi terbakar di sekitar vagina
  • Nyeri pada saat buang air kecil
  • Cairan vagina dan/atau darah keluar dalam jumlah yang abnormal setelah berhubungan seks

Gejala Klamidia pada Pria

  • Keluar cairan berwarna kuning atau kehijauan dari ujung penis
  • Nyeri pada saat buang air kecil
  • Gatal atau sensasi terbakar di sekitar pembukaan penis
  • Bengkak disertai dengan rasa sakit di sekitar testis

Klamidia tidak hanya menginfeksi alat kelamin saja. Penyakit ini juga bisa menginfeksi mata apabila cairan vagina atau sperma yang terinfeksi tidak sengaja mengenai mata. Mata yang terinfeksi klamidia akan terasa bengkak, perih, kemerahan, rasa silau disertai nyeri ketika terkena sinar cahaya langsung (fotofobia), dan mengeluarkan cairan berwarna keputihan.

Seseorang yang melakukan seks anal dengan penderita klamidia juga bisa terinfeksi pada bagian anus. Akan tetapi, ada juga kasus yang jarang terjadi pada wanita yaitu infeksi bukan dikarenakan seks anal, namun infeksi menyebar dari vagina ke anus. Gejala klamidia pada anus umumnya meliputi pendarahan, keluar cairan, dan rasa sakit atau tidak nyaman di sekitar anus.

Gejala rasa nyeri pada perut, demam, nyeri ketika melakukan hubungan seksual juga merupakan gejala yang timbul ketika infeksi klamidia sudah menyebar ke organ di luar organ reproduksi. Apabila klamidia tidak diobati dengan tepat dan sedari dini, terdapat kemungkinan 30% infeksi bisa menyebar hingga ke organ panggul yang menyebabkan terjadinya penyakit peradangan panggul (PID – pelvic inflammatory disease).

Gejala dari PID adalah nyeri pada panggul, nyeri ketika melakukan hubungan seksual, demam, kram, dan nyeri perut. PID bisa menyebabkan luka parut dan kerusakan pada organ reproduksi yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya infertilitas (mandul).

Seseorang juga bisa terinfeksi penyakit ini pada bagian tenggorokan jika melakukan seks oral dengan penderita klamidia. Adapun tanda-tanda klamidia di tenggorokan adalah sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Seringkali seseorang yang terkena klamidia di tenggorokan hanya mengira sedang terkena radang tenggorokan biasa.

Gejala klamidia memang mirip dengan gejala gonore. Bahkan bukan tidak mungkin bahwa seseorang yang menderita gonore juga bisa terinfeksi klamidia pada saat yang bersamaan.