Kenali 12 Tanda Ketidaksuburan pada Wanita (dan Pria)

Meski penyebab ketidaksuburan wanita seringkali tidak menunjukkan gejala apapun, namun kalau Anda memiliki beberapa kondisi berikut ini, maka segeralah periksakan diri ke dokter.

tanda ketidaksuburan pada wanita

KETIDAKSUBURAN biasanya ditentukan oleh periode waktu, yaitu berapa lama pasangan berusaha untuk punya anak namun gagal terus. Jika usaha punya anak ini gagal hingga 1 tahun lamanya, atau 6 bulan bagi pasangan yang usianya 35 tahun ke atas, maka dokter biasanya akan menganggap itu sebagai ketidaksuburan. Namun, haruskah pasangan menunggu selama itu untuk mengetahui apakah mereka benar subur atau tidak?

Berikut ini ada beberapa pertanyaan yang bisa ditanyakan pada diri sendiri maupun pasangan. Jika kebanyakan jawabannya adalah ya, maka segeralah periksa ke dokter sebelum jangka waktu yang disebutkan tadi. Jadi, apakah Anda ataupun pasangan memiliki:

1. Siklus haid tak teratur

Ketika seorang perempuan haid untuk pertama kalinya, maka wajar kalau siklus datang bulannya tidak teratur. Hal ini dikarenakan tubuh butuh waktu untuk beradaptasi. Tapi setelah ia melewati masa remajanya, maka seharusnya siklus haid sudah mulai teratur.

Oleh karenanya, jika siklus menstruasi tetap tidak teratur, kondisi ini seringkali merupakan tanda ketidaksuburan pada wanita atau adanya gangguan ovulasi. Jadi bila siklus haid tidak pasti, kadang panjang, kadang pendek (kurang dari 24 hari atau lebih dari 35 hari), atau tidak bisa diprediksi, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter. Anda juga harus segera menemui dokter kalau haid berhenti total.

Penyebab siklus haid tidak teratur ini bermacam-macam, paling umum biasanya karena sindrom polikistik ovarium (PCOS). Alasan lainnya bisa jadi akibat hiperprolaktinemia, kegagalan ovarium prematur, disfungsi tiroid, cadangan ovarium berkurang, indeks massa tubuh (IMT) kurang atau berlebih, dan olahraga berlebihan.

2. Pendarahan ringan/berat dan kram

Pendarahan haid yang muncul 3-7 hari biasanya masih tergolong normal. Namun kalau volume darahnya terlalu sedikit, atau sebaliknya sangat banyak dan intens, maka Anda harus segera menemui dokter. Gejala haid lain yang juga bisa menjadi penyebab ketidaksuburan wanita antara lain:

  • Perubahan signifikan volume darah (sebelumnya sedikit lalu jadi banyak, begitu juga sebaliknya)
  • Perubahan signifikan lamanya durasi haid (sebelumnya sebentar lalu jadi lama, atau sebaliknya)
  • Kram haid yang dahsyat. Kalau ini sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, maka bisa disebabkan karena endometriosis atau radang panggul, keduanya bisa memicu infertilitas. Karena kedua penyakit ini bisa bertambah parah seiring berjalannya waktu, maka penting untuk periksa ke dokter sedini mungkin.
  • Munculnya bercak darah padahal tidak sedang haid

3. Usia lebih dari 35 tahun

Baik pria maupun wanita, keduanya sama-sama mengalami penurunan tingkat kesuburan seiring bertambahnya usia. Bagi wanita, risiko infertilitas meningkat pada usia 35 tahun dan semakin besar setelah itu.

Kalau wanita 30 tahun masih memiliki kemungkinan 20 persen hamil, maka potensi itu menurun drastis menjadi 5 persen saja ketika usianya menginjak 40 tahun. Di samping itu, perempuan yang usianya di atas 35 tahun juga berisiko lebih tinggi mengalami keguguran atau melahirkan anak dengan cacat bawaan.

Berbeda dengan pria, walau tingkat kesuburan mereka juga dipengaruhi usia, namun biasanya tak sedrastis wanita. Riset menemukan bahwa semakin bertambahnya umur, kesuburan serta kesehatan sperma kian menurun, diiringi dengan meningkatnya DNA yang dapat merusak sperma. Usia pria juga bisa meningkatkan risiko keguguran, penyakit keturunan, cacat bawaan, autisme, dan skizofrenia pada anak.

Uniknya, berbagai hasil riset yang dilakukan bertahun-tahun lamanya menunjukkan kalau banyak wanita dan pria tidak mengerti bila kesuburan dipengaruhi usia. Kebanyakan berpikir kalau mereka baru kesulitan hamil saat usia menginjak 40 atau 44 tahun, atau menganggap bahwa perawatan kesuburan IVF bisa membuat mereka tetap hamil (padahal tidak bisa).

Mengapa tidak bisa? Karena perawatan IVF juga dipengaruhi usia pria. Sebuah studi menemukan kalau setiap tambahan 1 tahun umur pria, maka risiko tidak bisa hamil meningkat 11 persen, dan 12 persen untuk bayi mati setelah lahir. Namun pria atau wanita yang masih muda jangan terlalu percaya diri juga karena mereka juga bisa mengalami infertilitas.

Sebuah studi kemudian mempelajari kira-kira usia berapa yang pas untuk pasangan bila ingin punya anak. Hasilnya seperti ini: sebelum umur 32 jika ingin punya 1 anak (tingkat keberhasilan 90 persen). Usia 27 jika ingin 2 anak, dan 23 tahun kalau ingin punya 3 anak. Ini kalau proses punya anak tadi tidak melibatkan perawatan IVF. Tapi bila memakai bantuan IVF, maka usianya adalah 35 untuk 1 anak, 31 untuk 2 anak, dan 28 bila ingin punya 3 anak.

Baca juga:Tips Cepat Hamil di Usia 35 Tahun

4. Disfungsi seksual

Infertilitas pada pria biasanya tidak disertai dengan tanda-tanda yang jelas. Untuk mengetahui, pria biasanya harus menjalani tes kesuburan atau analisa sperma terlebih dulu. Dengan begitu, barulah bisa diketahui apakah memang ada masalah kesuburan, entah itu karena jumlah sperma yang terlalu sedikit atau karena ada gangguan pada mobilitas spermanya. Namun kalau seorang mengalami disfungsi seksual, maka ini juga bisa menandakan risiko gangguan kesuburan.

5. Masalah berat badan

Percaya atau tidak, berat badan seseorang memengaruhi kesuburannya. Terlalu gemuk atau sebaliknya, terlalu kurus, bisa mempersulit usaha punya anak. Faktanya, obesitas merupakan salah satu penyebab paling umum mengapa perempuan susah hamil. Para ahli menemukan kalau mengurangi berat badan sebanyak 5-10 persen bisa melancarkan ovulasi.

Selain itu, masalah berat badan juga bisa menimbulkan efek merugikan bagi kesuburan pria. Pria yang indeks massa tubuhnya di bawah 20 didapati memiliki jumlah dan kadar sperma sedikit. Sedangkan, pria obesitas cenderung mengalami rendahnya testosteron dan menurunnya jumlah sperma.

Karena beberapa hormon penyebab infertilitas bisa memicu masalah berat badan, maka penting bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter kalau diet tak berjalan mulus. Penyakit seperti PCOS misalnya, tak hanya menyebabkan infertilitas, namun juga bisa meningkatkan risiko obesitas.

6. Keguguran

Infertilitas atau ketidaksuburan biasanya diasosiasikan dengan ketidakmampuan untuk hamil. Namun, perempuan yang mengalami keguguran lebih dari sekali juga butuh bantuan jika ingin hamil lagi. Kasus keguguran bukanlah hal aneh karena menimpa lebih kurang 10-20 persen kehamilan.

Namun yang jarang adalah kalau keguguran itu terjadi lebih dari sekali. Hanya 1 persen perempuan yang mengalami keguguran berulang 3 kali berturut-turut. Jadi kalau Anda sudah pernah mengalami 2 kali keguguran, maka cari bantuan dokter bila ingin hamil lagi.

7. Penyakit kronis

Penyakit kronis dan juga perawatannya bisa menyebabkan masalah kesuburan. Contoh penyakit yang bisa meningkatkan risiko ketidaksuburan adalah diabetes, penyakit celiac yang tidak diobati, penyakit gusi, dan hipotiroidisme.

Seringkali, metode perawatan yang dipakai untuk menyembuhkan beberapa penyakit kronis juga berdampak negatif pada kesuburan. Insulin, antidepresan, serta hormon tiroid bisa membuat siklus haid tidak teratur. Tagamet (cimetidine), obat yang dipakai untuk mengatasi ulkus perut, dan beberapa obat darah tinggi juga bisa memicu infertilitas pada pria. Obat-obatan tersebut mengganggu produksi sperma atau kemampuannya untuk membuahi sel telur.

8. Kanker di masa lalu

Beberapa pengobatan kanker juga dapat menimbulkan gangguan kesuburan. Jadi bila Anda atau pasangan pernah menjalaninya, terutama terapi radiasi di bagian organ reproduksi, maka carilah bantuan dokter kalau ingin punya anak.

9. Sejarah penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual (PMS) bisa menjadi tanda ketidaksuburan pada wanita maupun pria. Infeksi dan radang akibat klamidia atau gonore misalnya, bisa memblokir saluran tuba falopi. Ini bisa membuat kehamilan mustahil terjadi, atau menempatkan wanita pada risiko kehamilan ektopik (di luar rahim).

Sama halnya dengan pria, kalau PMS tidak segera ditangani, infeksi dapat menimbulkan cacat jaringan pada saluran reproduksi pria, membuat aliran air mani kurang efektif atau gagal tersalurkan.

Masalahnya sekarang, karena klamidia dan gonore jarang menimbulkan gejala pada wanita, maka penting sekali untuk melakukan tes PMS secara rutin. Perlu Anda ketahui kalau kebanyakan jenis PMS tidak menimbulkan gejala pada perempuan. Seorang wanita yang sudah terinfeksi mungkin merasa tetap baik-baik saja, sementara penyakit tersebut diam-diam merusak organ reproduksinya.

Bila muncul gejala-gejala PMS, maka segera temui dokter, dan bila Anda berisiko terkena PMS tertentu, lakukan tes rutin, bahkan bila tak ada gejala apapun yang dirasakan.

Baca juga:Deteksi Gonore dan Klamidia dengan Tes Urin

10. Kebiasaan merokok dan minum

Mungkin kebanyakan orang sudah tahu kalau kebiasaan merokok dan minum saat hamil adalah hal buruk. Namun 2 kebiasaan buruk ini juga bisa menghalangi usaha punya anak.

Rokok tak hanya berdampak negatif pada jumlah sperma saja, namun juga bentuk dan mobilitasnya. Padahal semua ini penting untuk keberhasilan sperma dalam melakukan pembuahan. Di samping itu, merokok juga membuat tingkat keberhasilan perawatan IVF rendah, meskipun didampingi dengan ICSI (mengambil 1 sperma, lalu menginjeksikannya langsung ke sel telur). Lebih dari itu, merokok juga erat kaitannya dengan disfungsi ereksi.

Pada wanita, merokok bisa mempercepat proses penuaan ovarium, sehingga ia lebih cepat pula mengalami menopause. Berita baiknya adalah, semakin cepat berhenti merokok, maka efek kerusakan yang telah terjadi bisa diputarbalikkan.

Sedangkan kebiasaan minum juga bisa memicu gangguan kesuburan baik pada pria maupun wanita. Kebanyakan studi menemukan kalau minum beberapa gelas seminggu tak berbahaya, namun minum alkohol berlebihan bisa menurunkan jumlah sperma, menghambat mobilitasnya, dan membuat bentuknya tidak teratur. Sebuah studi bahkan menemukan kalau setiap tambahan gelas alkohol per minggu dapat menurunkan tingkat kesuksesan metode IVF.

11. Paparan zat kimia

Apakah pekerjaan atau aktivitas sehari-hari mengharuskan Anda terlibat kontak dengan zat kimia tertentu? Jika ya, maka itu juga bisa memperbesar risiko ketidaksuburan serta menurunkan kesehatan sperma. Petani, pelukis, tukang pernis, pekerja yang berhubungan dengan logam, tukang las, dll, sangat berisiko mengalami masalah kesuburan, begitu juga dengan mereka yang sering berada dalam lingkungan bersuhu tinggi. Untuk mencegah risiko infertilitas, berkonsultasilah dengan dokter dan kenakan alat pelindung yang memadai.

12. Suhu tinggi

Suhu tinggi itu buruk bagi sperma. Inilah mungkin salah satu alasan mengapa celana dalam boxer dianggap lebih baik ketimbang brief (celana dalam pria yang ketat dan pendek). Boxer tak hanya lebih longgar namun juga breathable sehingga takkan membuat suhu testis naik. Namun para ahli masih belum memastikan kebenaran ini.

Yang jelas adalah mengenakan celana dalam ketat, terutama yang bahannya non-breathable, bisa berdampak pada kesehatan sperma. Kondisi suhu tinggi lain yang sering dialami dan dapat merusak kualitas sperma antara lain:

  • Duduk terlalu lama dengan kaki rapat (seperti saat menyetir jarak jauh atau ketika di kantor)
  • Berendam atau mandi air panas terlalu lama
  • Duduk sambil memangku laptop
  • Duduk di atas kursi mobil yang panas akibat sinar matahari

Masalah suhu panas ini sebaiknya tidak diremehkan karena efeknya bisa lebih lama dari yang Anda sangka. Sebuah studi kecil-kecilan mengamati beberapa pria yang rutin mengunjungi sauna 2 kali seminggu, selama 15 menit, lebih dari 3 bulan. Ketika sample air maninya diuji (sebelum dan sesudah ke sauna), para ahli mendapati kalau jumlah sperma dan mobilitasnya menurun, sedangkan kadar DNA perusak spermanya meningkat.

Baca juga:5 Tips untuk Meningkatkan Kualitas Sperma

Dan sperma para pria ini kembali dianalisa 3 dan 6 bulan kemudian setelah mereka berhenti ke sauna. Hasilnya kesehatan spermanya tidak sepenuhnya pulih bahkan hingga 6 bulan berlalu sejak mereka berhenti pergi ke sauna.

Oleh karena 80 persen pasangan bisa hamil dalam kurun waktu 6 bulan (dan 90 persen setelah 1 tahun) setelah rutin berhubungan intim, maka jika Anda tidak mengalaminya, segeralah temui dokter. Untuk pasangan yang berusia 35 tahun atau lebih, lakukan pemeriksaan setelah sudah berusaha 6 bulan lamanya.

Namun sekali lagi, kalau jawaban dari sebagian besar pertanyaan di atas adalah ya, maka jangan tunggu lebih lama lagi. Segeralah lakukan tes kesuburan sehingga bila memang terjadi masalah, maka perawatan yang tepat dapat segera dilakukan.

Sow good seed for you don’t know which sowing will succeed, this, or that, or if both will do well.

Leave a Reply

Your email address will not be published.