Kekurangan Air Ketuban (Oligohydramnios)

Diagnosis Kekurangan Air Ketuban (Oligohydramnios)

Diagnosa oligohydramnios dapat dilakukan oleh dokter melalui berbagai cara. Sebelum melakukan pemeriksaan, dokter mungkin akan bertanya tentang seputar kesehatan atau penyakit yang Anda diderita. Berikut adalah beberapa tes untuk mengukur volume air ketuban yang paling umum dipakai.

AFI (Amniotic Fluid Index)

Tes yang melibatkan USG ini tak hanya untuk mengukur volume air ketuban, namun juga membantu dokter mengukur kedalaman kantung cairan ketuban dan volumenya.

USG

Melalui USG, dokter dapat mengetahui kondisi saluran kemih serta ginjal janin guna mengetahui ada-tidaknya potensi gangguan saluran kencing, renal agenesis (kelainan pada ginjal), serta cystic dysplasia.

USG Doppler

Jenis USG ini untuk mengetahui apakah plasenta sudah berfungsi dengan normal, atau mengalami gangguan.

Sterile Speculum Examination

Karena bocornya kantong air ketuban dapat menyebabkan oligohydramnios, maka dokter akan melakukan Sterile Speculum Examination untuk memantau pergerakan cairan ketuban.

MPV (Maximum Vertical Pocket)

Tujuan tes yang menggunakan USG ini adalah mencari tahu kadar air ketuban di bagian terdalam rahim, area dimana tidak terdapat janin maupun tali pusat.

 

Tes lain seperti skrining prenatal dapat memberikan informasi tambahan seperti apakah janin mengalami cacat bawaan seperti spina bifida dan Down syndrome.

Ibu hamil yang didiagnosa oligohydramnios umumnya:

  • Memiliki kadar air ketuban kurang dari 5 cm
  • Mempunyai volume air ketuban yang tak lebih dari 500 ml, padahal usia kandungan sudah masuk minggu ke-32 atau 36.

Faktanya, 1 dari 10 ibu hamil biasanya mengalami kekurangan air ketuban, namun hanya 4 dari 100 saja yang positif oligohydramnios.

Meski kondisi minimnya air ketuban ini dapat terjadi kapan saja, namun kebanyakan ibu hamil mengalaminya ketika kandungan sudah memasuki trimester ke-3.