IUD Sebabkan Radang Panggul dan Masalah Kesuburan, Benarkah?

Ada yang bilang kalau IUD sebabkan radang panggul, hal ini benar apa tidak, sih? Dan apa ada lagi efek samping IUD lainnya yang mesti kita ketahui?

MEMANG IUD tidak disarankan untuk wanita nullipara (belum pernah melahirkan) karena dapat memperbesar risiko radang panggul dan infertilitas. Dugaan ini sebenarnya muncul berdasarkan asumsi kalau wanita nullipara bisa saja memiliki lebih dari 1 pasangan seksual sehingga risiko terkena penyakit menular seksual (PMS) lebih tinggi.

Selain itu, hasil riset mengenai IUD sebabkan radang panggul yang dilakukan tahun 1970an dan 1980an juga cukup membingungkan. Hasil studi melarang penggunaan IUD karena para ahli mengklaim, risiko radang panggul meningkat 60 persen pada wanita penggunanya.

Hasil penemuan inilah yang mungkin mencetuskan pemikiran kalau IUD sebabkan radang panggul. Namun beberapa penelitian lain yang dilakukan setelahnya mendapati kalau hal tersebut tidak benar. Manakah yang benar?

IUD dan radang panggul

Sebelumnya, kita perlu tahu sedikit soal radang panggul. Radang panggul merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada dinding rahim, saluran tuba falopi, atau indung telur. Penyebab utama terjadinya radang panggul adalah bakteri PMS klamidia dan gonore. Dan penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan cara menggunakan kondom pria atau kondom wanita.

Riset modern mengatakan risiko radang panggul sebenarnya tak ada kaitan langsung dengan penggunaan IUD. Tapi bila proses pemasangan IUD-nya kurang steril sehingga bakteri penyebab radang panggul ikut masuk dalam tubuh, maka itulah yang mungkin menyebabkan radang panggul. Penelitian juga mendapati bahkan setelah 20 hari penggunaan, risiko radang panggul tidaklah lebih tinggi (dibanding perempuan yang tidak memakai IUD).

Walau hasil dari berbagai penemuan tidak bisa kompak, namun penggunaan spiral tertentu ternyata bisa menurunkan risiko radang panggul. Alasannya, kandungan progestin dalam IUD bisa menurunkan risiko infeksi dengan:

  • Mengentalkan cairan servikal
  • Mengubah endometrium
  • Mengurangi menstruasi retrograde (masuknya darah haid ke saluran tuba falopi).

IUD dan infertilitas

Efek samping IUD lainnya yang juga menimbulkan kekhawatiran adalah menyebabkan infertilitas. Perlu kita ketahui bersama, salah satu penyebab paling umum dari infertilitas adalah tersumbatnya saluran tuba falopi. Diperkirakan 1 juta kasus infertilitas terjadi karena gangguan pada saluran ini.

Jika kondisi ini terus dibiarkan dan tidak ditangani segera, maka radang panggul bisa menyebabkan infeksi dan penyumbatan pun tak bisa disembuhkan lagi. Namun, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan kalau infertilitas karena hal ini terjadi akibat efek samping IUD.

Riset yang melibatkan 1895 perempuan, menunjukkan kalau penggunaan IUD baik dulu maupun saat ini, tidak meningkatkan risiko penyumbatan tuba. Hal inipun disetujui oleh pihak WHO yang merasa bahwa mitos mengenai efek samping IUD terlalu berlebihan. WHO menekankan, tidak ada risiko infertilitas bagi pengguna IUD yang menjalani hubungan monogami.

Faktanya, berbagai riset malah menunjukkan kalau infertilitas akibat penyumbatan tuba seringkali terjadi akibat infeksi PMS, dan bukannya karena penggunaan IUD.

Berbagai studi mendapati keberadaan antibodi klamidia pada wanita seringkali menyebabkan penyumbatan tuba. Dan antibodi ini biasanya baru muncul kalau tubuh terinfeksi bakteri klamidia. Umumnya walau bakterinya sudah hilang, antibodi akan tetap ada di pembuluh darah.

Hasil riset mendapati, kehadiran antibodi klamidia bisa meningkatkan risiko penyumbatan tuba hingga 62 persen, sementara sebaliknya kalau antibodi ini tidak ada dalam tubuh, maka seseorang mengalami penurunan risiko penyumbatan tuba hingga 90 persen. Kesimpulannya, infertilitas yang muncul pasca penggunaan IUD bukanlah karena IUD itu sendiri, melainkan karena infeksi bakteri PMS yang tidak ditangani dengan segera.

Baca juga: Waspadai Komplikasi IUD yang Mungkin Terjadi

Saran terakhir

Karenanya, wanita nullipara yang sudah berusia 25 tahun dan/atau memiliki lebih dari 1 pasangan seksual, harus menjalani tes PMS juga di hari yang sama saat pemasangan IUD dilakukan. Jika hasil tes PMS positif, maka perawatan harus segera dilakukan.

Kalau ia tak mengalami gejala tertentu akibat PMS yang dideritanya, maka spiral boleh tetap terpasang. Namun bagi wanita yang mengalami gejala klamidia atau gonore sepertinya keluarnya cairan abnormal dari vagina, maka ia sebaiknya menjalani perawatan dulu sebelum memakai IUD. Hal ini dikarenakan wanita pengidap klamidia dan gonore yang menggunakan IUD memiliki risiko lebih besar terkena radang panggul, jika dibanding pengguna IUD tanpa PMS.

Sow good seed for you don't know which sowing will succeed, this, or that, or if both will do well.