Ini, Lho, yang Terjadi Pada Otak Kita Saat Sedang Jatuh Cinta!

Perubahan saat jatuh cinta bukan hanya terjadi pada perilaku kita. Sebenarnya, ada reaksi kimia cinta yang berlaku di dalam tubuh dan bagian inilah yang berpengaruh jangka panjang terhadap sebuah hubungan. Penasaran hormon apa saja yang bekerja?

perubahan saat jatuh cinta

SAAT jatuh cinta, katanya kita akan merasa lemas kala berhadapan dengan orang yang kita cintai. Kita juga akan merasa sakit perut dan bisa saja tersenyum tiba-tiba tanpa alasan. Itu hanyalah reaksi fisik yang terlihat di permukaan.

Namun, tahukah Anda bahwa perubahan saat jatuh cinta juga dipengaruhi oleh hormon? Ya, reaksi kimia cinta terjadi karena ada hormon yang berubah saat kita jatuh cinta.

Tidak hanya hormon yang mengakibatkan reaksi kimia cinta, perubahan saat jatuh cinta juga dipengaruhi oleh aktivitas otak. Aktivitas otak inilah yang selalu dinamis dan berimprovisasi serta memengaruhi hubungan jangka panjang. Saat awal-awal hubungan berlangsung, kita mengalami apa yang disebut antropolog Helen Fisher sebagai positive illusion.

Positive illusion ini yang membuat Anda di masa awal sebuah hubungan lebih mudah memaafkan pasangan. Anda lebih mudah melihat perilaku-perilaku positifnya dibanding perilaku-perilaku negatifnya. Anda akan sukses dalam hubungan jangka panjang jika positive illusion berlaku lama dalam hubungan Anda.

Bagian Otak yang Memengaruhi Keberhasilan Hubungan Jangka Panjang

Antropolog Helen Fisher dan neuroscientist Lucy Brown ingin mengetahui bagian otak mana yang bekerja pada pasangan yang sukses dalam hubungan jangka panjangnya. Mereka pun melakukan scan otak pada ratusan orang yang berada dalam beragam jenjang hubungan.

Dari hasil scan otak tersebut, Fisher dan Brown menemukan bahwa ada tiga bagian otak yang aktif pada pasangan yang terlibat dalam hubungan jangka panjang, yakni bagian otak yang berhubungan dengan empati, bagian otak yang berhubungan dengan pengontrolan stres, dan bagian otak yang berhubungan dnegan positive illusion.

Area yang berhubungan dnegan positive illusion disebut ventromedial prefrontal cortex. Area ini adalah area yang berhubungan dengan penilaian dan kritik kita terhadap sesuatu.

Baca juga:Ini Cara Tahu Apakah Si Dia Juga Naksir Anda!

Apa yang Terjadi pada Ventromedial Prefrontal Cortex saat Kita Jatuh Cinta?

Kita mengalami perubahan saat jatuh cinta. Kita menjadi lebih kalem, pemaaf, dan santai. Ternyata, ini dapat terjadi karena area otak yang disebut sebagai ventromedial prefrontal cortex, area yang membuat kita mengkritik atau menilai sesuatu, mengalami penurunan aktivitas. Saat area ini mengalami penuruan aktivitas, kita akan jadi lebih mudah memafkan orang yang kita cintai.

Perilaku dan Otak Dapat Saling Memengaruhi

Walau saat jatuh cinta kita jadi mudah memaafkan pasangan kita, bukan berarti kita menutup mata terhadap sifat-sifat buruk yang ia punya. Kita tidak boleh buta terhadap sikap kasar karena ini membahayakan sebuah hubungan. Namun, dari penelitian yang dilakukan Fisher dan Brown, kita dapat tahu bahwa agar hubungan berhasil, kita harus mengurangi perilaku buruk terhadap pasangan.

Sulit memang untuk tidak mengkritik dan menilai pasangan. Apalagi, saat sudah terlalu lama bersama dan tidak ada lagi efek dari positive illusion. Namun ternyata, saat kita berperilaku positif dan suportif terhadap pasangan kita, ventromedial prefrontal cortex akan mengalami penurunan aktivitas. Yang kemudian, secara langsung akan memunculkan positive illusion kembali. Kita jadi akan lebih mudah memaafkan dan melihat kebaikan pasangan kita.

Baca juga:5 Perbedaan Pria dan Wanita dalam Relationship

Dengan demikian, bukan hanya aktivitas otak yang memengaruhi perilaku kita. Perilaku yang kita tunjukkan pun memengaruhi aktivitas otak. Jika kita berlaku suportif terhadap pasangan, otak dan biologis pun akan otomatis membantu kita. Mereka juga akan mendorong aktivitas yang menghasilkan positive illusion.

Efeknya, kita akan lebih memahami pasangan dan merasa empati. Bila pasangan mengalami kesalahan dan kegagalan pun, kita akan lebih lunak menghadapinya dan tidak serta-merta menyalahkannya. Mungkin, ini pulalah alasan yang membuat umat manusia bertahan begitu lama di muka bumi. Sebab ternyata, otak dan biologis kita punya mekanismenya sendiri untuk mempertahankan hubungan antarmanusia.

nuriamalia

passionate writer

Be the first to write a comment.

Your feedback