HIV

Penyebab HIV

Penyebab HIV adalah virus HIV (human immunodeficiency virus). HIV sendiri merupakan variasi dari virus yang menginfeksi salah satu spesies simpanse Afrika.

Para ahli menduga SIV (simian immunodeficiency virus) menular dari simpanse ke manusia ketika seseorang mengonsumsi daging simpanse yang terinfeksi. Dan begitu menginfeksi manusia, virus tersebut bermutasi menjadi HIV dan memiliki kemampuan untuk menginvasi dan menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh manusia.

Setelah masuk dalam tubuh penderita, virus ini akan memasuki sel tubuh dan menyatu ke dalam sel tubuh penderita lalu memodifikasi sel, sehingga memproduksi virus HIV.

Virus HIV menyerang sel pada sistem imunitas tubuh yang disebut CD4 atau sel limfosit T. Sel ini pada akhirnya akan dihancurkan oleh infeksi tersebut.

Tubuh penderita akan berusaha melawan dengan jalan memproduksi sel T baru atau berusaha membunuh virus yang menginfeksi. Namun apabila tidak segera diatasi lebih lanjut, pada akhirnya virus HIV akan terus-menerus merusak kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan kanker.

Istilah ‘immunodeficiency’ di sini berarti hilangnya atau tidak berfungsinya sistem kekebalan tubuh yang bertugas melawan infeksi. Sistem imun tubuh manusia mengandung sel yang disebut CD4 atau sel T (salah satu sel darah putih yaitu sel Limfosit). Sel-sel inilah yang menjadi sasaran utama virus HIV.

Cara penularan HIV dari seseorang ke lainnya biasanya melalui cairan tubuh yang terinfeksi dan mengandung virus HIV seperti sperma, darah, ASI, maupun cairan vagina dan dubur. Oleh karena itu HIV mudah menular melalui:

  • Hubungan seks dengan penderita HIV (ini merupakan penyebab HIV yang paling umum). Melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi virus HIV tanpa menggunakan pengaman seperti kondom sangat berisiko menularkan infeksi HIV. Virus HIV dapat memasuki tubuh melalui vagina, vulva, penis, anus, atau mulut ketika melakukan hubungan seksual. Oral seks sangat jarang dapat menularkan infeksi HIV, namun penelitian menunjukkan hal ini bukan tidak mungkin terjadi, terutama apabila ada luka terbuka pada rongga mulut dan alat kelamin Anda atau pasangan Anda.
  • Menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau yang pernah dipakai oleh penderita HIV, entah untuk menginjeksikan obat atau membuat tato. Menyuntikkan obat menggunakan jarum yang tidak steril dan digunakan berulang kali atau menggunakan alat suntik dari seseorang yang telah terinfeksi oleh virus HIV dapat menularkan infeksi HIV tersebut.
  • Pemberian ASI dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya. Selain itu, penularan dari ibu ke janin yang dikandungnya juga dapat terjadi melalui transmisi ketika kehamilan atau ketika proses kelahiran, melalui sel ibu yang terinfeksi memasuki aliran darah bayi.
  • Transfusi darah. Darah atau komponen darah yang terinfeksi dapat menularkan virus HIV, walaupun hal ini jarang terjadi. Oleh karena itu, badan PMI selalu melakukan pengecekan stok darah dari kemungkinan resiko infeksi HIV.
  • Transplantasi organ. Apabila jaringan atau organ dari penderita HIV ditransplantasikan, maka kemungkinan penerima transplantasi bisa terinfeksi oleh HIV.
  • Orang yang telah terinfeksi oleh penyakit menular seksual, seperti sifilis, herpes genital, klamidia, HPV, gonore, atau vaginosis bakterial, memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi oleh HIV ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV.

Kesimpulannya, semakin tinggi jumlah virus HIV di dalam darah (viral load) maka kemungkinan orang tersebut untuk menularkan HIV juga semakin tinggi. Orang dengan HIV tetapi memiliki viral load yang sangat rendah (atau tidak terdeteksi ada virus dalam darah) memiliki kemungkinan yang juga rendah untuk dapat menularkan virus HIV.

Meski jarang, namun HIV juga dapat menular melalui seks oral, bekas gigitan penderita, serta kontak fisik yaitu dengan luka terbuka yang dimiliki penderita HIV. Tentu saja cara penularannya yaitu dengan pertukaran cairan tubuh yang terinfeksi yang mengandung virus HIV dari penderitanya. Meskipun begitu, jumlah virus HIV di dalam cairan genital masih sangat berpengaruh sebagai media penularan HIV.

Yang patut dicatat adalah HIV tidak menular melalui:

  • Kontak fisik (kulit dengan kulit)
  • Pelukan, jabat tangan, atau ciuman (kecuali bila ada luka berdarah di bibir penderita)
  • Air atau udara
  • Air ludah, air mata, keringat
  • Berbagi toilet, handuk, atau ranjang
  • Gigitan nyamuk atau serangga lain

Jadi, Anda tak perlu takut untuk bersosialisasi dengan penderita HIV.