HIV

Komplikasi HIV

Komplikasi dari infeksi HIV yang paling sering ditemukan adalah akibat dari penekanan imunitas tubuh akibat jumlah sel limfosit T yang sangat berkurang. Pengobatan ART berguna untuk menekan replikasi dari virus HIV.

Obat ART dapat membantu memperpanjang hidup penderita, mengembalikan sistem imun penderita hingga mendekati kondisi normal, sehingga penderita dapat beraktivitas seperti biasanya dan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi.

Jika pasien tidak segera mendapatkan terapi antiretroviral, maka penyakit HIV akan menimbulkan AIDS. Penyakit HIV tersebut menyebabkan sistem imun melemah, sehingga membuat tubuh rentan mengalami berbagai komplikasi.

Komplikasi Paru-Paru

  • Pneumonia (Pneumositis jirovecii)

Pneumositis jirovecii sebelumnya merupakan komplikasi pada tahap akhir penyakit HIV yang sering ditemukan. Akan tetapi, penyakit ini sekarang jarang ditemukan setelah adanya pengobatan ART dan pencegahan primer infeksi. Akan tetapi karena gambaran penyakit yang membahayakan, penyakit ini masih merupakan kondisi signifikan yang sering timbul pada pasien tahap akhir penyakit HIV dengan jumlah sel CD4 dibawah 100/mm3.

  • Pneumonia Bakterial

Bakteri penyebab yang paling seri ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Pada pemeriksaan rontgen dada, ditemukan adanya gambaran infiltrat yang menyebar pada paru.

  • Infeksi Jamur

Penyebab paling sering adalah Cryptococcus spp. Pada kasus infeksi yang menyebar di seluruh tubuh, dapat ditemukan beberapa jenis jamur yang menginfeksi.

  • Tuberkulosis (TB)

Penyakit ini sering ditemukan pada daerah dimana TB adalah penyakit endemis, seperti Indonesia. Banyak kasus menunjukkan adanya kekambuhan kembali dari penyakit TB yang sudah disembuhkan sebelumnya.

  • Kompleks Mycobacterium avium

Gejala mulai timbul pada tahap akhir penyakit HIV. Penderita dengan angka CD4 kurang dari 50/mm3 merupakan kelompok yang paling sering terkena komplikasi penyakit ini. Gambaran penyakit ini adalah infeksi disseminata (gambaran infeksi yang menyebar di seluruh tubuh), demam tinggi, keringat pada malam hari, turun berat badan, diare, nyeri perut, anemia dan disfungsi hati. Diagnosa penyakit ini didapatkan dengan cara kultur bakteri dari sampel darah atau sumsum tulang belakang, atau bisa juga dari biopsi jaringan.

Komplikasi Sistem Syaraf Pusat

  • Toksoplasmosis Serebral

Merupakan penyakit yang sering ditemukan di sistem syaraf pusat terutama pada penderita dengan jumlah kadar CD4 kurang dari 200/mm3. Gambaran penyakit ini berupa gejala sub-akut diantaranya adalah gangguan neurologis fokal (kelumpuhan pada kelompok otot spesifik seperti bagian kanan atau kiri wajah, salah satu bagian lengan atau kaki atau lidah), sakit kepala, demam, dan kejang.

  • Meningitis Kriptokokus

Gejala yang timbul adalah gejala sub-akut dan tidak spesifik seperti nyeri kepala, mual, muntah, demam yang tidak tinggi, dan jarang terjadi kejang.

  • Ensefalopati HIV

Penyakit HIV dapat secara langsung menginfeksi sistem syaraf, dan kebanyakan penderita pada tahap akhir penyakit HIV menunjukkan bukti histologis adanya kerusakan otak.

  • Myelopati dan Neuropati Perifer

Kondisi ini dapat timbul pada tahap manapun dari infeksi HIV, tetapi lebih umum terjadi ketika penyakit sudah jauh masuk ke stadium lanjut. Pada titik ini, 10-15% kasus menunjukkan gambaran neuropati simetris pada anggota tubuh bagian bawah yang mengenai sistem gerak dan perasa pada kulit. Penyakit HIV juga bisa mengenai tulang belakang yang mengakibatkan kelemahan kedua kaki dan gejala sensoris peraba syaraf kulit kaki.

  • Kriptosporidiosis (infeksi usus halus)
  • Kanker
  • Gangguan ginjal
  • Penyakit menular seksual

Walau virus HIV mungkin tak dapat dikeluarkan sampai bersih dari tubuh, namun pengobatan antiviral dapat membantu mengendalikannya. Dan untuk mencegah timbulnya komplikasi lebih lanjut akibat infeksi HIV, dokter biasanya akan memberikan vaksin tambahan untuk mencegah timbulnya ragam penyakit di atas.