HIV

Gejala HIV

Infeksi HIV merupakan penyakit asimtomatis yang tidak menunjukkan gejala spesifik pada window period. Dikarenakan tidak ada gejala yang menonjol pada awal terjadi infeksi, maka beberapa orang biasanya tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi oleh virus HIV.

Setelah 1-2 bulan berlalu, mereka mungkin baru merasakan gejala HIV karena pada saat ini, sistem imun tubuh mulai bereaksi terhadap serangan virus. Infeksi HIV terjadi dalam 3 fase gejala, yaitu:

Fase akut

Fase akut sering disebut juga dengan serokonversi, yaitu tahap dimana antibodi HIV mulai muncul untuk melawan keberadaan virus. Gejala HIV pada fase ini rata-rata mirip dengan gejala pada penyakit flu dan bisa hilang setelah beberapa hari atau berminggu-minggu kemudian.

Ciri-ciri gejala nonspesifik HIV yang dirasakan pada fase ini adalah:

  • Demam tidak tinggi dan hilang timbul
  • Sariawan
  • Menurunnya nafsu makan
  • Radang tenggorokan
  • Membengkaknya kelenjar limfa
  • Ruam pada kulit yang tidak disertai dengan rasa gatal
  • Nyeri atau sakit pada bagian tubuh tertentu
  • Turunnya berat badan
  • Diare>
  • Kelelahan

Pada bulan-bulan awal infeksi, tes HIV mungkin akan menunjukkan hasil negatif. Penyebabnya karena sistem imun butuh waktu untuk memproduksi antibodi yang cukup agar bisa terdeteksi melalui pemeriksaan darah.

Akan tetapi pada fase ini, virus sedang aktif-aktifnya bekerja dan bereplikasi (berkembangbiak), sehingga memiliki potensi menular yang sangat tinggi. Penularan HIV dapat terjadi melalui darah (berbagi jarum suntik, transfusi), ASI, hingga hubungan seks (termasuk seks anal), dan cairan tubuh yang terinfeksi virus HIV.

Fase kronis

Infeksi HIV pada fase kronis atau yang disebut juga dengan fase jendela  (window period) dapat berlangsung bertahun-tahun hingga beberapa dekade. Selama fase ini, virus tetap bereproduksi dan merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya, namun dalam level rendah. Oleh sebab itu, penderita biasanya tidak mengalami gejala yang berarti dan tidak merasa memiliki penyakit.

Selama fase laten ini, virus HIV yang bereplikasi secara aktif akan menginfeksi dan membunuh sel penting yang bertugas melawan infeksi dari luar tubuh, yaitu salah satu jenis sel darah putih yang disebut sel CD4 atau sel T-Helper. Pada akhir fase ini, ketika virus HIV akhirnya membunuh sel Cad4 dalam tubuh, jumlah virus HIV akan meningkat tajam dan sebaliknya, jumlah sel CD4 akan sangat menurun. Jika ini terjadi, barulah penderita menunjukkan gambaran gejala sejalan dengan meningkatnya jumlah virus di dalam tubuh.

Namun walau tidak ada gejala sama sekali, virus tetap memiliki potensi menular. Dan jika pada fase ini penderita tidak segera menjalani terapi antiretroviral, maka infeksi HIV akan menyebabkan penyakit AIDS.

Fase terakhir (AIDS)

Pada fase ini, infeksi HIV telah menimbulkan penyakit AIDS yang sifatnya merusak sistem imun dan kesehatan tubuh. Penyakit AIDS adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat infeksi virus HIV yang telah merusak sistem daya tahan tubuh penderita.

Yang patut dicatat adalah tak semua orang yang terinfeksi HIV pasti mengidap AIDS. Namun mereka yang menderita AIDS pasti memiliki virus HIV dalam tubuhnya.

Penyakit AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV, yaitu ketika tubuh penderita mulai kehilangan jumlah sel limfosit T dan kemampuan untuk melawan infeksi yang terjadi.

Ketika jumlah hitung sel CD4 turun sangat rendah (dibawah 500 sel/mL), maka penderita sudah divonis terkena penyakit AIDS. Diagnosa AIDS juga seringkali dibuat ketika seseorang terkena infeksi atau kanker yang menunjukkan sangat lemahnya sistem imun tubuh mereka.

Infeksi yang timbul berbarengan AIDS disebut juga infeksi oportunistik karena infeksi terjadi akibat tubuh penderita yang melemah karena sistem imunitas mereka sudah rusak. Seseorang yang telah didiagnosa memiliki penyakit AIDS akan memerlukan pemberian antibiotik pencegahan untuk mencegah beberapa infeksi oportunis timbul.

Beberapa infeksi oportunis yang mungkin timbul diantaranya adalah :

  • Pneumonia (radang paru-paru) yang diakibatkan oleh Pneumositis jiroveci dapat menimbulkan batuk kering dan sesak nafas yang berat.
  • Toksoplasmosis, suatu infeksi sistem syaraf pusat yang dapat menyebabkan gangguan berpikir, sakit kepala, atau gejala yang sangat mirip dengan serangan stroke.
  • Infeksi disseminata yang diakibatkan oleh kompleks Mycobacterium Avium. Infeksi ini dapat menyebabkan gejala demam, diare, dan penurunan berat badan.
  • Infeksi jamur Candida pada mulut dan kerongkongan (esofagus) yang menyebabkan gejala nyeri ketika menelan.
  • Infeksi jamur Cryptococcus neoformans yang pada akhirnya bisa menimbulkan radang selaput otak (meningitis).
  • Leukoensefalopati, yaitu kondisi pada sistem syaraf pusat akibat infeksi salah satunya oleh virus Polyoma yang dapat menimbulkan kematian.

Sistem imunitas tubuh yang melemah juga dapat menyebabkan timbul beberapa kondisi berikut:

  • Limfoma (kanker pada jaringan limfoid) yang menyebabkan gejala demam dan pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh
  • Sarkoma Kaposi yaitu kanker pada jaringan lunak yang menyebabkan gejala benjolan berwarna merah kecoklatan atau keunguan pada kulit atau di dalam mulut

Beberapa gejala AIDS lainnya yang mungkin muncul antara lain:

  • Membengkaknya kelenjar limfa di ketiak, leher, dan selangkangan
  • Demam yang hilang timbul
  • Sakit kepala kronis
  • Berkeringat saat malam
  • Bercak gelap di bawah kulit atau dalam mulut, hidung, dan kelopak mata
  • >Luka atau lecet dalam mulut, lidah, kemaluan, atau anus
  • Mual dan muntah
  • Diare kronis yang datang dan pergi
  • Turunnya berat badan secara drastis
  • Ruam, lebam, atau lecet pada kulit
  • Gangguan saraf sehingga menyebabkan susah fokus, bingung, hingga melemahnya daya ingat
  • Gelisah dan depresi

Deretan gejala di atas umumnya datang dan pergi atau bisa jadi memburuk dengan cepat.