Ejakulasi Dini

Diagnosis Ejakulasi Dini

Pada tahap pertama diagnosa ejakulasi dini, dokter akan meminta riwayat kehidupan seksual penderita secara lengkap. Riwayat medis termasuk riwayat penyakit sistemik yang pernah diderita dan konsumsi obat-obatan, baik itu obat yang dijual bebas, obat yang diresepkan dokter, maupun obat-obatan terlarang. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik terkait dengan gangguan ejakulasi dini yang dialami juga kemungkinan penyebabnya.

Bagi pria yang mengalami ejakulasi dini dan disertai gangguan disfungsi ereksi, dokter akan meminta pasien untuk melakukan tes darah yang akan mendeteksi tingkat kadar hormon pria. Tes pemeriksaan ejakulasi ini dilakukan agar dokter dapat menentukan diagnosis ejakulasi dini secara tepat.

Tes pemeriksaan ejakulasi dini juga dapat dibantu oleh tenaga profesional kesehatan mental atau terapis seksual apabila masalah ejakulasi dini disebabkan oleh gangguan pada psikis penderita ataupun metode berhubungan seksual yang tidak tepat.

Riwayat pengalaman seksual yang akan ditelusuri termasuk pengalaman seksual sejak dini, informasi akan hubungan seksual terdahulu hingga saat ini, dan kondisi fisik dan psikis saat masalah ejakulasi dini pertama kali terjadi.

Informasi mengenai nilai-nilai agama yang dianut serta cara Anda dididik ketika bertumbuh dewasa juga menjadi faktor penting dalam penentuan diagnosa karena dua hal itu menentukan pandangan Anda terhadap aktivitas hubungan seksual. Dalam sebagian besar kasus ejakulasi dini, akan lebih baik bila pasangan seksual Anda juga diikutsertakan dalam proses pemeriksaan dalam menentukan diagnosa ejakulasi dini.

Dalam menentukan perawatan yang tepat, dokter harus bisa membedakan ejakulasi dini sebagai keluhan yang berdiri sendiri atau sebagai sindrom (kumpulan gejala).

Sejak kurang lebih 20 tahun lalu, para ahli telah membagi kriteria diagnosa ejakulasi dini menjadi dua yaitu :

  • Ejakulasi dini primer, yakni ejakulasi dini yang dialami semenjak menginjak masa pubertas hingga seumur hidup penderita sampai saat ini.
  • Ejakulasi dini sekunder, yakni ejakulasi dini yang dialami karena beberapa faktor namun sebelumnya tidak mempunyai riwayat ejakulasi dini.

Dua kriteria diagnosis tersebut akan menjadi acuan dalam perawatan dan pengobatan untuk ejakulasi dini. Kombinasi penatalaksanaan antara terapi fisik dan pengobatan seringkali menjadi metode penyembuhan ejakulasi dini yang paling efektif.

Perawatan yang sering dilakukan adalah self-treatment dengan metode pengendalian dalam berhubungan seksual, psikoanalisis, terapi seks dan pengobatan. Dokter tentunya akan menentukan metode penyembuhan ejakulasi dini yang terbaik dan paling sesuai dengan kriteria diagnosa penyebab ejakulasi dini pada kondisi Anda.

Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan khusus yang ditujukan untuk membantu menentukan gejala yang mengarah kepada diagnosa pasti penyebab ejakulasi dini seperti contohnya berapa perkiraan waktu yang dibutuhkan sebelum timbulnya ejakulasi (disebut juga latensi ejakulasi). Pertanyaan yang diajukan diantaranya adalah :

  • Sudah berapa lama Anda mengalami ejakulasi dini?
  • Berapa sering ejakulasi dini terjadi?
  • Apakah kondisi ini terjadi setiap saat atau hanya saat-saat tertentu?
  • Berapa banyak rangsangan yang dapat menyebabkan ejakulasi pada Anda?
  • Seberapa jauh ejakulasi dini mempengaruhi aktivitas Anda?
  • Dapatkah Anda menunda ejakulasi hingga setelah terjadi penetrasi?
  • Apakah Anda atau pasangan merasa terganggu atau frustasi?
  • Seberapa besar ejakulasi dini mempengaruhi kualitas hidup Anda?