Bersepeda Akibatkan Mandul, Benarkah?

Tips Sehat

Bersepeda merupakan aktivitas yang tidak hanya sehat, tetapi juga menyenangkan. Beberapa tahun belakangan, tren bersepeda sedang hangat-hangatnya mencuat dan berbagai tips sehat ramai-ramai membahas kegiatan ini. Meskipun bersepeda merupakan kebiasaan yang sehat, akan tetapi muncul kekhawatiran meningkatnya resiko kemandulan pada pria. Benarkah bersepeda menyebabkan kemandulan?

KEGIATAN bersepeda merupakan aktivitas olahraga yang menjaga kesehatan tubuh manusia, serta menurunkan resiko penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan serangan stroke. Meskipun demikian, banyak yang mempercayai bawa bersepeda menyebabkan kemandulan pada pria. Faktanya, bersepeda tidak menyebabkan kemandulan. Akan tetapi, kegiatan ini meningkatkan resiko kanker prostat pada pria yang berumur di atas 50 tahun.

Peneliti dari University College London menunjukan data dari jumlah pesepeda pria sebanyak 5.282 yang ikut pada kegiatan Cycling for Health UK yang ditujukan untuk bahan studi ilmiah. Para peserta kegiatan bersepeda tersebut diminta untuk mengisi lembar survei yang menyatakan, apakah mereka memiliki masalah disfungsi ereksi, didiagnosis memiliki masalah infertilitas, atau sedang mengidap kanker prostat. Kegiatan bersepeda ini dibagi dalam durasi jam per minggunya yaitu, durasi di bawah 4 jam, 4 sampai 6 jam, 6 sampai 8,5 jam dan diatas 8,5 jam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara kemandulan atau disfungsi ereksi dengan kegiatan bersepeda dari seberapa banyak kilometer, ataupun banyaknya waktu yang dihabiskan ketika bersepeda. Penulis studi tersebut, Mark Hammer, Ph.D. menyatakan bahwa teknologi sadel masa kini dari sepeda telah berkembang. Desain sadel saat ini dapat membantu mengurangi tekanan pada urat-urat untuk mencegah sensasi rasa kaku atau mati rasa yang dapat terjadi ketika bersepeda pada waktu yang cukup lama.

Kaitan bersepeda dan kanker prostat

Kegiatan bersepeda disinyalir meningkatkan level protein PSA atau Prostate-Spesicifc Antigen yang dapat menjadi gejala kanker prostat. Hal tersebut dikarenakan tekanan dari sadel dapat menekan prostat atau menyebabkan trauma ringan pada prostat, sehingga terjadi radang dan meningkatkan level protein PSA. Namun, pria yang sangat aktif bersepeda bisa saja memiliki level PSA yang tinggi, murni karena kegiatan bersepeda dan tidak ada kaitannya dengan kanker.

Fakta tersebut sebetulnya menjadi rumit dikarenakan studi ini menunjukkan bahwa waktu bersepeda lebih dari 8,5 jam per minggu berkaitan dengan meningkatnya resiko kanker prostat. Mark Hammer berpendapat bahwa hasil studi tersebut harus diartikan sebagai sebuah kewaspadaan para pria dan kemungkinan bahwa tidak serta merta kegiatan bersepeda menjadi penyebab dan akibat secara langsung.

Mark Hammer menuturkan, “Sebagai contoh, bisa saja seorang pesepeda pria memang lebih sadar akan kesehatan tubuhnya dan memeriksakan dirinya ke dokter, sehingga jika ada kondisi yang tidak normal akan lebih cepat terdeteksi.” Selain itu, Hammer juga menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan, dan risiko kanker prostat meningkat hanya pada pesepeda yang sangat aktif pada kegiatan bersepeda.

Sejatinya, memang kita harus lebih tahu akan risiko dan sadar akan kesehatan tubuh masing-masing. Risiko memang selalu ada, namun jangan sampai kegiatan olahraga yang menyehatkan, seperti bersepeda menghentikan niat Anda untuk menjalani gaya hidup yang sehat. “Kegiatan bersepeda yang masih pada batas rata-rata memberikan banyak manfaat bagi kesehatan sehingga kemungkinan resiko-resiko tersebut akan tertutup oleh manfaat dari bersepeda,” tutup Mark Hammer.

Ice cream lover. Knows everything about movies. Knows a little about everything else.

%d bloggers like this: