3 Pilihan Kontrasepsi Permanen Ini Dikenal Paling Efektif

Kontrasepsi permanen yang relatif aman bagi wanita tak hanya proses tubektomi saja. Masih ada beberapa metode sterilisasi lainnya, baik itu bagi perempuan maupun laki-laki.

kontrasepsi permanen yang relatif aman

KETIKA pasangan memutuskan tidak mau punya anak (lagi), biasanya mereka mulai memikirkan tentang mana kontrasepsi permanen yang relatif aman dan minim efek samping. Tak seperti pil KB, metode sterilisasi permanen umumnya tidak memengaruhi siklus haid (pada wanita), atau hasrat seksual. Ya pria yang memilih melakukan sterilisasi permanen umumnya masih bisa ereksi dan ejakulasi.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, benarkah efek kontrasepsi permanen tidak bisa diputarbalikkan lagi? Walau beberapa prosedur seperti vasektomi atau jenis tubektomi tertentu dapat diputarbalikkan, namun peluangnya kecil.

Tak hanya rumit, tapi biayanya juga mahal dan membutuhkan prosedur operasi besar. Hasilnya pun 50-50, bisa berhasil namun juga tidak. Sedangkan untuk histerekopi yang melibatkan implan Essure, efeknya rata-rata tak bisa dikembalikan.

Perlu diketahui juga bahwa umumnya butuh persetujuan kedua belah pihak (suami dan istri) bila ingin melakukan sterilisasi permanen. Di samping itu, kebanyakan dokter juga menolak melakukan sterilisasi permanen pada seseorang/pasangan yang usianya 30 tahun ke bawah, atau yang masih belum punya anak. Alasannya karena riset menunjukkan tak sedikit pasangan (yang belum punya anak) menyesal telah melakukannya.

Karenanya, sebelum memutuskan menjalaninya, sebaiknya anggap kalau 3 kontrasepsi berikut sifatnya benar-benar permanen.

1. Vasektomi

Di samping kondom, vasektomi merupakan satu-satunya alat kontrasepsi bagi pria. Prosedur vasektomi ada 2, secara konvensional dan tanpa pisau bedah.

Vasektomi konvensional dilakukan dengan cara membuat sayatan kecil di bagian atas skrotum. Setelah itu, 2 saluran (vas deferens) yang menampung dan menyalurkan sperma ke cairan mani akan dipotong dan kemudian diikat. Terakhir, sayatan tadi kemudian ditutup dengan beberapa jahitan. Selesai!

Karena sifatnya melibatkan bedah minor, maka prosedur ini ditangani oleh dokter bedah. Pasien sendiri berada dalam keadaan sadar karena anestesinya hanya bersifat lokal.

Lain halnya dengan vasektomi tanpa pisau bedah. Dalam hal ini, saluran spermanya hanya dijepit saja dengan klem. Sesudahnya, dokter akan membuat lubang kecil pada kulit di atas saluran sperma, dan dari situ beliau akan menjangkau saluran sperma untuk dipotong dan diikat. Dibanding metode konvensional, cara ini lebih baik karena darahnya lebih sedikit dan efek rasa sakitnya lebih minim.

Setelah menjalani vasektomi, tubuh memang masih menghasilkan air mani namun tanpa sperma sehingga kehamilan takkan terjadi.

2. Tubektomi

Kalau pada pria istilahnya vasektomi, maka tubektomi diperuntukkan bagi wanita. Mini laparotomi (biasanya dilakukan setelah persalinan) dan laparoskopik merupakan 2 jenis proses tubektomi yang paling umum.

Tubektomi juga melibatkan prosedur bedah yang tujuannya mencegah sel telur masuk ke dalam rahim. Metode ini juga mampu menghalangi sperma masuk saluran tuba falopi, tempat dimana pembuahan biasanya terjadi.

Sama seperti vasektomi, pasien harus menjalani prosedur ini di rumah sakit atau klinik dokter. Setelah pemberian anestesi, dokter akan membuat 1 atau 2 sayatan di perut sehingga beliau dapat menjepit, mengikat, dan/atau meng-kauterisasi saluran tuba falopi. Bekas sayatan kemudian ditutup dengan jahitan.

3. Histerokopi

Dibanding kedua metode tadi, histerokopi merupakan cara sterilisasi lain untuk wanita yang prosedurnya tidak melibatkan pisau bedah. Konsep metode ini adalah dengan menutup saluran tuba falopi menggunakan implan Essure (alat kecil yang dimasukkan ke dalam saluran tuba falopi melalui vagina).

Masuknya Essure ke dalam tuba falopi menyebabkan terbentuknya jaringan di sekitar implan sehingga menghalangi jalan masuk sperma ke saluran tersebut.

Prosedur ini juga harus  dilakukan di klinik dokter dan hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja. Selain bebas pisau bedah dan anestesi, histerokopi juga tak meninggalkan bekas luka dan kebanyakan penggunanya dapat beraktivitas normal dalam hitungan 24 jam.

Waiting for the best is never useless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan
    • Malam dokter.. Saya perempuan 26 tahun.. Saya terakhir menstruasi pada tanggal 10 September.. Setelah itu mulai tanggal 14 September sudah mulai berhubungan denga pasangan.. Yang ingjn saya tanyakan, apakah bisa kemungkinan hamil? Yang kedua, pada saat selesai berhubungan muncul bercak darah. Apakah itu berbahaya atau tidak? Terimakasih

    • 1 Balasan 3 weeks ago

    • Assalamualaikum dok saya mau menanyakan kan saya awal menstruasi tanggal 8 agustus lalu kalau lewat dari tanggal 8 september akan terjadi sesuatu atau saya hamil ya dok, dan 2 hari ini saya mengalami flek coklat sebelum tanggal menstruasi saya gitu dok ? Semoga di jawab ya dok

    • 1 Balasan 1 month ago

    • Selamat sore dok Mau tanya, sy baru menikah tgl 18 bulan 8 kemarin. Awal menstruasi tanggal 9. Sampai sekarang saya belum ada tanda-tanda hamil. Padahal haid sy teratur tiap bulanny, tapi haid saya setiap hari pertama selalu sangat sakit. Dan setiap sy dan suami brhubungan, keluar cairan kental(lendir) bening berwarna orange kemerahan seperti darah. apakah  … Read more

    • 1 Balasan 1 month ago