3 Alasan Generasi Milenial Tidak Buru-buru Menikah

Generasi milenial yang kini berada di rentang usia 20-30 tahun cenderung telat menikah. Generasi sebelumnya pun berasumsi bahwa generasi ini takut pada komitmen karena banyak dari generasi milenial yang pada usia 35 tahun belum menikah juga. Hmm, tapi sepertinya bukan itu alasan yang tepat. Jika Anda penasaran, coba simak 3 alasan generasi milenial tidak buru-buru menikah di bawah ini.

telat menikah

JIKA Anda lahir setelah tahun 1980, mungkin pandangan Anda tentang pernikahan akan jauh berbeda daripada generasi sebelumnya. Bila generasi sebelumnya begitu mudahnya melangsungkan pernikahan dan cenderung berani menikah di usia muda, generasi Anda atau yang disebut generasi milenial lebih sulit untuk memutuskan kapan dan dengan siapa pernikahan akan dilangsungkan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “kenapa harus menikah?” atau “apakah dia benar orang yang tepat?” seringkali dilontarkan oleh generasi milenial. Untuk memutuskan menikah atau tidak, generasi milenial terjebak dalam dilema keinginan untuk bebas, mudahnya mendapatkan alternatif pasangan, dan berubahnya definisi tentang pernikahan.

Dengan berbagai pertimbangan ini, tak heran jika banyak generasi milenial yang pada usia 35 tahun belum menikah atau telat menikah. Bila Anda bukan termasuk dalam generasi milenial dan coba memahami cara pandang generasi ini, mungkin penjelasan di bawah ini dapat membantu Anda memahami mereka.

Keinginan untuk Bebas dan Mandiri

Ide yang sering digaungkan di tengah generasi milenial adalah Anda tidak perlu bersama dengan seseorang untuk mencapai kebahagiaan. Generasi ini menganggap diri mereka dapat menjadi apapun yang mereka inginkan. Dan seringkali, mencapai cita-cita itu akan lebih sulit dilakukan jika dalam kondisi terikat pada komitmen.

Fakta juga mengungkap bahwa gaya hidup individualis menjadi salah satu pendorong terbesar bagi generasi milenial untuk telat menikah. Meski sejumlah penelitian mengungkap bahwa hubungan pernikahan dapat meningkatkan kualitas kesehatan seseorang, ide ini tampak cukup aneh dan asing bagi generasi milenial. Ini karena mereka sudah mengedepankan gaya hidup individualis yang sulit mengedepankan kebutuhan orang lain di depan kebutuhan diri sendiri.

Banyaknya Pilihan

Di era seperti ini, mudah sekali untuk bertemu dengan orang baru. Baik dengan melibatkan diri pada komunitas dan kegiatan tertentu maupun dengan cara paling instan seperti kencan di dunia maya.

Mudahnya mendapatkan pasangan membuat generasi milenial tidak terburu-buru. Usia 35 tahun belum menikah adalah hal biasa karena mereka memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mengenal pasangan. Jika dengan pasangan saat ini tidak cocok, mudah bagi generasi milenial untuk segera mendapatkan pasangan baru.

Baca juga: Cepat Temukan Jodoh Anda dengan 3 Cara Ini!

Generasi milenial juga takut jika pasangan mereka saat ini ternyata tidak sebaik itu setelah pernikahan. Karenanya, mereka tidak mau terburu-buru untuk melangsungkan pernikahan walau rasanya sudah menemukan orang yang tepat. Mereka perlu melihat lagi perangai orang tersebut dari hari ke hari untuk melihat apakah benar orang tersebut akan menjadi pasangan yang baik setelah pernikahan.

Definisi Baru tentang Pernikahan

Bagi generasi milenial, pernikahan bukan lagi soal menemukan orang yang baik dalam berumahtangga. Menikah berarti menemukan orang yang sangat mereka cintai, mampu memahami mereka, dan mampu mengembangkan potensi mereka ke arah yang lebih baik. Generasi milenial membutuhkan deep love untuk akhirnya dapat melangsungkan pernikahan.

Ekspektasi generasi milenial sangatlah tinggi untuk kriteria pasangan yang tepat. Mereka cukup pemilih untuk menentukan pasangan seumur hidup. Ketakutan pada perceraian menjadi salah satu alasannya.

Tak heran jika generasi milenial membutuhkan waktu yang lama untuk mengenal dan menguji pasangan. Telat menikah tak menjadi masalah bagi generasi milenial asal mereka tak berakhir dalam perceraian.

Baca juga: Menurut Sains, Ini Usia Ideal untuk Menikah

a passionate writer

%d bloggers like this: