10 Mitos Tentang Kondom yang Perlu Anda Tahu

Tips Sehat

Benarkah pemakaian kondom 2 lapis itu lebih efektif ketimbang bila hanya menggunakan 1 buah saja? Dan apakah kita juga mesti memerhatikan ukuran kondom saat membelinya? Semua pertanyaan ini akan terjawab dalam artikel kali ini. 

cara menghilangkan bekas jerawat

MENURUT sejarah, kondom sudah dipakai manusia sejak 12.000 tahun silam. Saking lamanya, maka tak heran jika kemudian beredar berbagai mitos mengenai kondom. Beberapa mitos mungkin ada benarnya, namun tak sedikit yang justru menyesatkan banyak orang.

Menurut Bill Smith selaku direktur eksekutif National Coalition of STD Directors, “edukasi penggunaan kondom yang benar sangat penting untuk meningkatkan efektivitas salah satu jenis alat kontrasepsi tersebut. Dan guna meningkatkan kesehatan seksual secara nasional, kita perlu mempersenjatai masyarakat dengan pengetahuan mengenai pentingnya memakai kondom untuk melindungi diri dan pasangan.”

Lantas, seberapa banyak sih pengetahuan Anda tentang kondom? Dan tahukah Anda mengenai fakta di balik beberapa mitos mengenai kondom berikut ini?

Mitos 1: Kondom biasanya memiliki lubang atau cacat bawaan produksi lainnya.

Faktanya: karena kondom merupakan alat kontrasepsi yang sering dipakai masyarakat, maka pihak produsen dituntut untuk cermat dalam memeriksa dan menguji kualitas kondom buatan mereka. Berbagai tes pun dilakukan, biasanya yang melibatkan air (untuk mengetahui apakah kondom bocor atau tidak) maupun semburan air (guna menguji kekuatan bahan kondom) untuk menganalisa kualitas dan daya tahan kondom.

Mitos 2: Kondom tak bisa melindungi seseorang dari penularan penyakit menular seksual.

Faktanya: penyakit menular seksual (PMS) seperti klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis umumnya menyebar melalui cairan yang keluar dari organ keintiman. Dikarenakan kondom dapat menghalangi seseorang terkena cairan tersebut, maka alat pengaman ini jelas mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap penularan PMS.

Bahkan menurut beberapa hasil studi, wanita yang menggunakan kondom didapati menurun risikonya untuk terkena gonore (hingga 62%) dan klamidia (hingga 26%), jika dibanding perempuan yang tak memakai kondom saat berhubungan intim. Evaluasi yang dilakukan terhadap 45 hasil studi juga mendapati penggunaan kondom dapat menurunkan risiko penularan PMS baik pada pria maupun wanita.

Mitos 3: Memakai 2 kondom sekaligus dapat memberikan perlindungan lebih maksimal ketimbang 1 buah saja.

Faktanya: ya memang masuk akal, sih, karena pemakaian kondom 2 lapis berkesan seperti memberikan perlindungan ganda. Namun kenyataan di lapangan, memakai 2 kondom malah bisa membuatnya kurang efektif. Ketika 2 kondom dipakai sekaligus, maka risiko gesekan bahannya lebih besar sehingga membuat salah satu atau keduanya jadi robek. Untuk alasan yang sama, kondom pria sebaiknya juga tak dipakai bebarengan dengan kondom wanita.

Baca juga: Kesalahan dalam Memakai Kondom dan Cara Mengatasinya

Mitos 4: Hanya kondom berbahan lateks saja yang efektif.

Faktanya: mitos ini bisa benar, tapi juga salah karena tergantung dari definisi dari kata “efektif” tadi. Hingga saat ini, sedikitnya terdapat 4 jenis kondom pria: lateks, poliuretan, poliisoprena, dan alami (kulit kambing).

Menurut FDA, 3 bahan pertama yang disebutkan barusan memang efektif karena kondom mencegah kehamilan yang juga dapat mencegah penularan penyakit menular seksual. Namun pada prakteknya, banyak yang meragukan kalau poliuretan sama efektifnya dengan lateks, mengingat bahan ini tidak elastis seperti lateks, sehingga risiko terkoyak atau terlepas saat hubungan intim jadi lebih besar.

Lain halnya dengan kondom dari kulit kambing yang mengandung pori-pori kecil. Tentu saja ukuran pori-pori ini dibuat terlalu kecil sehingga sperma tak bisa lewat. Meski dapat mencegah kehamilan, namun sayangnya, bakteri atau virus penyebab PMS bisa tetap lewat melalui pori-pori tersebut. Ini membuat kondom kulit kambing tak bisa mencegah penularan PMS.

Mitos 5: Ukuran kondom tidaklah penting.

Faktanya: ukuran kondom sangatlah penting. Karena ukuran penis berbeda-beda, maka pria perlu memilih ukuran kondom yang sesuai agar pengamanan yang diberikannya bisa maksimal. Kalau ukuran kondom yang dipakai salah, terlalu kecil misalnya, maka kondom bisa koyak atau robek. Sebaliknya kalau ukurannya terlalu besar, maka risiko terlepas saat berhubungan intim juga tinggi.

Mitos 6: Okelah, kondom bisa melindungi penularan, namun tidak dengan HIV.

Faktanya: berbagai riset membuktikan kalau kondom lateks, khususnya, dapat melindungi seseorang terhadap infeksi virus HIV, penyebab AIDS, hingga 80-87% (dibanding mereka yang tidak memakai kondom).

Mitos 7: Kondom lebih banyak efek sampingnya ketimbang manfaat baiknya.

Faktanya: secara umum, kondom tak berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan. Mitos ini biasanya berlaku untuk mereka yang memiliki alergi terhadap lateks atau kandungan dalam bahan penyusun kondom seperti paraben, gliserin, atau spermisida.

Ya, tentu saja kalau Anda alergi terhadap bahan yang disebutkan tadi, maka Anda harus melakukan uji coba untuk mengetahui bahan kondom mana yang paling sesuai dengan kondisi Anda. Bila tak menemukannya, maka agaknya Anda harus mencari alat kontrasepsi jenis lain yang tidak membuat alergi.

Mitos 8: Kondom tak selalu efektif dalam mencegah kehamilan.

Faktanya: kalau dipakai dengan benar dan rutin (yakni setiap kali Anda berhubungan intim), maka kondom 98% efektif untuk mencegah kehamilan. Ini artinya hanya 2 dari 100 wanita yang kebobolan hamil meski pasangannya sudah memakai kondom dengan benar dan rutin.

Memang  ada beberapa faktor yang dapat membuat kondom kurang efektif, di antaranya:

  • Kondom cacat produksi
  • Kondom terkoyak/ robek karena salah cara membukanya
  • Lalai sekali saja sehingga lupa pakai kondom ketika berhubungan intim
  • Salah cara pakainya, entah itu terbalik, hanya dipakai sesaat saja, terlambat pakai, dilepas terlalu cepat, hingga salah ukuran
  • Kondomnya sudah kadaluarsa sehingga tak lagi elastis
  • Tidak menggunakan pelumas berbasis air atau silikon
  • Kondomnya bekas pakai atau pernah digunakan

Mitos 9: Kondom tidak melindungi penularan PMS dari kulit ke kulit.

Faktanya: jenis PMS seperti herpes, HPV (human papillomavirus), dan kutil kelamin memang dapat menyebar melalui kontak kulit dengan kulit. Tentu saja kondom masih tetap bisa mencegah penularan PMS ini bila itu dipakai untuk menutupi area terinfeksi.

Tak hanya dapat menurunkan risiko penularan kutil kelamin akibat HPV, kondom juga bisa mengurangi risiko kanker serviks terkait HPV, jika area terinfeksi ditutupi kondom. Namun kondom tetap tak bisa melindungi 100% penularan HPV atau HSV-2 dari kulit ke kulit.

Mitos 10: Kondom bikin tak nyaman dan sukar juga cara pakainya.

Faktanya: tak sedikit kondom yang dibuat dengan fitur tambahan seperti sensasi panas-dingin hingga bergerigi sehingga bisa membuat aktivitas seksual kian menyenangkan. Kalau Anda merasa tak nyaman karena kondom terlalu ketat, maka mungkin ukuran yang dipilih terlalu kecil.

Baca juga: Ketahui Ukuran Kondom yang Pas untuk Anda

Soal cara pakainya, kita perlu tahu sisi mana yang harus dibuka gulungannya. Trik mudahnya adalah, kondom harus mudah dipakai seperti topi (bukan shower cap).

Kalau gulungannya dapat dibuka dengan mudah tanpa perlu memasukkan jari ke bagian dalamnya, maka cara pakainya sudah benar. Dalam hal ini, tentu saja Anda hanya perlu banyak latihan kan? Dan jangan segan minta pasangan untuk melakukannya agar Anda semakin bergairah.

Sow good seed for you don't know which sowing will succeed, this, or that, or if both will do well.

%d bloggers like this: